School of Information Systems

Kecerdasan Buatan (AI) dan Implementasinya

Kemajuan teknologi telah mengubah cara manusia menyelesaikan tugas, menangani masalah, dan melihat dunia di sekitar mereka. Salah satu teknologi yang paling menonjol yang telah mengubah cara manusia melakukan hal-hal ini adalah Kecerdasan Buatan (AI). Kecerdasan Buatan (AI) adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang berkembang pesat dalam mengatur dan menganalisis data yang berasal dari berbagai sumber, dan bahkan dapat diprogram untuk membuat keputusan sendiri. Kecerdasan Buatan (AI) telah membantu manusia untuk mencapai kemajuan yang luar biasa di berbagai bidang. Artikel ini akan mengupas lebih dalam mengenai Kecerdasan Buatan (AI), mulai dari deskripsi Kecerdasan Buatan (AI) hingga permasalahan dalam Kecerdasan Buatan (AI) dan solusi dari permasalahan tersebut. 

Mengenal Kecerdasan Buatan (AI) 

Akhir-akhir ini kita sering mendengar kata AI dalam media sosial, ataupun orang-orang di sekitar kita. Sebenarnya apa itu AI? Menurut Rich dan Knight, Kecerdasan buatan merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana membuat sebuah komputer dapat mengerjakan sesuatu yang masih lebih baik dikerjakan manusia (Siadari, 2016). Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa kecerdasan buatan (AI) merupakan bidang ilmu komputer yang berfokus pada pembuatan mesin cerdas dimana mampu melakukan tugas yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia. Kecerdasan buatan (AI) ini ditemukan pada tahun 1955 oleh John McCarthy, seorang ilmuwan komputer yang menjadi penemu sekaligus pelopor dari kecerdasan buatan (AI) (Widya.ai, 2018). 

Cara Kecerdasan Buatan (AI) bekerja 

Pemrograman kecerdasan buatan (AI) dapat dipahami sebagai serangkaian proses yang berfokus pada tiga keterampilan kognitif, yaitu belajar, penalaran, dan koreksi diri. Proses ini dirancang untuk memberikan perangkat komputasi kemampuan untuk mengambil keputusan yang tepat dalam situasi yang berubah-ubah. Dalam proses belajar, menekankan pengumpulan data dan pembuatan aturan tentang bagaimana mengubah data menjadi informasi yang dapat digunakan. Aturan yang disebut algoritma memberi perintah langkah demi langkah tentang bagaimana menyelesaikan tugas tertentu. Proses selanjutnya adalah proses berpikir yang menekankan seleksi algoritma agar sesuai untuk mencapai hasil yang diinginkan. Proses terakhir adalah proses menyesuaikan diri yang dirancang untuk terus memperbaiki algoritma dan memastikan bahwa hasil yang dihasilkan akurat (Burns, 2022). 

Kategori Kecerdasan Buatan (AI) 

Kecerdasan buatan (AI) dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu kecerdasan buatan (AI) lemah atau kecerdasan buatan (AI) kuat. Kecerdasan buatan (AI) lemah atau kecerdasan buatan (AI) sempit, adalah sistem kecerdasan buatan (AI) yang dirancang dan diprogram untuk menyelesaikan tugas tertentu. Contoh kecerdasan buatan (AI) kategori ini adalah robot industri dan asisten pribadi virtual seperti Apple Siri, Alexa, dan lain sebagainya. Sebaliknya, kecerdasan buatan (AI) kuat atau kecerdasan umum buatan (AGI) memiliki kemampuan kognitif manusia. Dimana ketika diberi perintah khusus, sistem kecerdasan buatan (AI) kuat dapat menemukan solusi tanpa campur tangan manusia (Burns, 2022). 

Risiko implementasi Kecerdasan Buatan (AI) di bidang pendidikan 

Kecerdasan buatan (AI)  telah diterapkan dalam berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Kecerdasan buatan (AI) harus diimplementasikan dengan benar dalam pendidikan sekolah agar dapat menghadapi risiko buruk yang dapat terjadi. Ada beberapa risiko yang harus dihadapi, salah satunya adalah mengurangi kemampuan multitasking siswa. Jika kecerdasan buatan (AI) digunakan dalam sistem pendidikan, siswa akan menerima lebih banyak bantuan dari mesin, yang mungkin dapat mengurangi kemampuan mereka sendiri. Akibatnya siswa akan mengandalkan mesin bukan karena efisiensinya, tetapi karena kurangnya keterampilan untuk melakukannya tanpa mesin (Kandamby, 2021).  

Maka dari itu, penyesuaian penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam sistem pendidikan perlu dilakukan. Adanya pengenalan dan edukasi yang tepat dari guru kepada siswa tentang pemahaman dan penegasan dalam bagaimana penggunaan kecerdasan buatan (AI) sebagai alat bantu mereka dalam belajar dan bukan sebagai pengganti mereka sendiri adalah hal pertama yang harus dipertimbangkan. Kedua, perlunya pengawasan dan bimbingan dari guru terhadap siswa dalam menggunakan kecerdasan buatan (AI) dan adanya tindakan cepat dari guru untuk mengatasi masalah yang kemungkinan terjadi. Ini akan memastikan bahwasannya kecerdasan buatan (AI) tidak mengurangi kemampuan siswa dalam belajar. Yang ketiga adalah guru harus bisa memastikan bahwa pembelajaran siswa meliputi pemahaman konsep dan siswa masih mempunyai keterampilan kritis yang diperlukan untuk dapat menyelesaikan pekerjaan tanpa bantuan mesin. Hal itu penting, agar siswa dipastikan tidak mempunyai ketergantungan pada kecerdasan buatan (AI) untuk menyelesaikan setiap tugas yang diberikan oleh guru. 

Risiko implementasi Kecerdasan Buatan (AI) dalam bidang jasa 

Dalam bidang jasa saat ini, mulai terdapat beberapa usaha restoran yang telah menerapkan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan pemasaran, memperkirakan keperluan persediaan, dan menebak preferensi konsumen. Di Boston, robot telah dipakai untuk mengantarkan makanan dan menerima pesanan. Seorang insinyur robotika dari MIT yang memulai bisnis restoran di sana, juga menggunakan panci masak otomatis dan aliran bahan makanan yang diatur otomatis. Apapun restoran yang bermaksud bersaing di tengah persimpangan teknologi dan layanan, harus mempertimbangkan kesempatan dan risiko yang ada dalam kaitannya dengan kecerdasan buatan (AI) dan robotika. Salah satu risikonya adalah adanya gugatan perlindungan pekerja jika perusahaan memutuskan untuk mengadopsi perangkat lunak kecerdasan buatan (AI) atau teknologi robot yang dapat menghilangkan pekerjaan (Scherer, 2018). 

Solusi dari situasi ini adalah, perlunya peninjauan dari keputusan ulang mengenai penggunaan kecerdasan (AI) dan robotika. Terlalu banyak penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan robot dapat menimbulkan kesenjangan sosial antara penyedia jasa dan pembeli. Penyedia jasa perlu menyesuaikan antara penggunaan pekerja manusia dan robot sehingga meminimalisir pengurangan pekerjaan manusia dan dapat menggunakan kecerdasan buatan (AI) maupun robot sebagai pembantu tenaga kerja yang sudah ada. Dengan demikian tenaga kerja manusia tidak dikorbankan dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan robot tetap bisa digunakan secara maksimal. 

Risiko implementasi Kecerdasan Buatan (AI) dalam bidang kesehatan 

Dalam bidang kesehatan, implementasi  kecerdasan buatan (AI) dapat menimbulkan risiko dalam perawatan kesehatan. Salah satu contohnya adalah dapat mengakibatkan kerugian untuk pasien. Penyebab utama dari kesalahan kecerdasan buatan (AI) adalah gangguan dan artefak pada input klinis  kecerdasan buatan (AI) dan pengukuran, ketidaksesuaian data antara data pelatihan  kecerdasan buatan (AI) dan data di dunia nyata, serta variasi yang tidak diperkirakan dalam konteks klinis dan lingkungan. Konsekuensi medis dari kesalahan tersebut dapat berupa kondisi yang berbahaya yang tidak terdiagnosis, diagnosis yang salah serta pengobatan yang tidak tepat dan prioritas intervensi yang kurang tepat (Lekadir, 2022). 

Untuk mengatasi kerugian pasien akibat kesalahan kecerdasan buatan (AI), beberapa tindakan dapat dilakukan. Pertama, penting untuk meningkatkan kualitas input data, yang mencakup mengurangi kebisingan dalam data klinis yang digunakan AI untuk pelatihannya. Kedua, penting untuk memonitor data dunia nyata yang digunakan  kecerdasan buatan (AI) untuk diagnosis dan intervensi, dan memastikan bahwa data tersebut sesuai dengan data pelatihan  kecerdasan buatan (AI). Ketiga, penting untuk mengidentifikasi dan mengukur variasi yang tidak terduga dalam konteks klinis dan lingkungan, yang dapat mempengaruhi keberhasilan  kecerdasan buatan (AI). Keempat, perlunya perhatian dari pihak terkait mengenai masalah etik, kebijakan dan sarana yang relevan untuk menangani masalah yang mungkin muncul dalam penelitian yang sedang dilakukan, misalnya kepastian bahwa teknologi yang digunakan dalam kasus ini adalah kecerdasan buatan (AI) itu aman dan tidak membahayakan. Dan hal kelima yang sangat penting adalah pertimbangan pengadaan pengetahuan. Hal ini sangat penting dikarenakan kurangnya kesadaran tenaga ahli untuk melakukan pembelajaran terkait kecerdasan buatan (AI). Hasil penelitian yang dilakukan Collado- Mesa (2018) menunjukkan 36% peserta tidak membaca artikel ilmiah medis terkait kecerdasan buatan selama 12 bulan terakhir, padahal 90% peserta menggunakan alat kecerdasan buatan (AI) selama melakukan praktek sehari-hari (Pak Winny, 2019).  

Kesimpulan dari artikel ini adalah, kecerdasan buatan (AI) akan segera menjadi bagian integral dari hidup manusia. Kecerdasan buatan (AI) dapat membantu manusia menjadi lebih produktif, meningkatkan kualitas hidup, serta dapat membuka peluang yang luas untuk pengembangan masa depan yang lebih baik. Namun perlu untuk diingat, walaupun kecerdasan buatan (AI) telah memberikan berbagai manfaat, potensi risikonya tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu, implementasi kecerdasan buatan (AI) harus dilakukan dengan hati-hati dan mengikuti prinsip-prinsip keamanan, privasi, etika dan hukum. Pemantauan dan kontrol yang berkelanjutan juga diperlukan untuk memastikan bahwa kecerdasan buatan (AI) digunakan secara bertanggung jawab dan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. 

Sumber pustaka:

 

Jennifer Tan