School of Information Systems

Tahapan dalam Pengembangan UX

Sebelum kita mengenal apa saja yang diperlukan atau menjadi syarat UX, kita harus mengenali terlebih dahulu arti dari UX ini sendiri, UX atau User Experience merupakan proses dimana pengguna memperoleh experience atau pengalaman yang memuaskan pada saat berinteraksi dengan interface atau tampilan yang nyaman dan mudah dimengerti. Tujuan dari UX ini sendiri untuk meningkatkan kepuasan dan pengalaman menyenangkan bagi penggunanya pada saat mengakses atau menggunakan sebuah tampilan dari suatu aplikasi, website, software, hardware, mobile ataupun desktop. Produk yang memiliki desain UX mendesain produknya dengan pendekatan pengguna, dimana mereka akan berusaha untuk mendesain produknya dengan tujuan menyediakan yang diperlukan pengguna, dan meningkatkan kepuasan dan pengalaman penggunanya. Singkatnya dapat kita simpulkan bahwa suatu produk atau hasil yang memiliki desain UX yang baik akan menciptakan pengalaman yang menyenangkan dan memuaskan bagi penggunanya karena pengguna merasa nyaman dan mudah dalam menggunakan suatu aplikasi, produk atau tampilan yang kita tawarkan tersebut.

Beberapa komponen UX antara lain seperti fitur-fitur yang disediakan bagi penggunanya, navigasi penggunaan produk, struktur desain, penampilan visual design, dan seluruh aspek produk yang dapat berinteraksi dengan pengguna, konten yang ditampilkan, branding. Design UX ini mempengaruhi pengalaman pengguna saat menggunakan produk. Proses desain UX memerlukan riset agar dapat menyesuaikan dengan apa yang disukai dan diperlukan oleh calon pengguna. Kemudian desainer akan melakukan sketsa desain dengan menggunakan wireframe dan prototype. Terdapat beberapa aplikasi prototyping yang dapat digunakan untuk membantu desainer UX karena dapat mendapatkan feedback dari pengguna agar dapat menghasilkan produk yang user-friendly, antara lain Figma, Adobe XD, Axure, Sketch, dan InVision. Seorang desainer UX memerlukan skill dalam melakukan riset, berpikir kritis, berpikir kreatif, melakukan analisa, memecahkan masalah, dan melakukan wireframe.

Sementara itu, Tugas dari seorang Desainer UX adalah untuk mencari tahu apa yang diinginkan klien mereka dari produk, layanan tertentu atau sistem. Klien akan mengekspresikan beberapa keinginan yang dapat kita simpulkan sebagai keperluan atau persyaratan. Dimana menurut Robertson and Robertson (2012), Requirements merupakan ‘sesuatu yang harus dilakukan produk atau kualitas yang harus dimiliki dalam suatu produk’. Sehingga desainer akan mengumpulkan informasi terkait pelanggan dan kondisi pasar agar dapat menghasilkan banyak informasi tentang situasi saat ini. Kemudian seorang desainer UX bertugas untuk mengubah informasi ynag diperoleh sebelumnya menjadi persyaratan untuk suatu produk, sistem atau layanan. Analisis–desain–evaluasi ini prosesnya sangat iteratif. Efektivitas lompatan kreatif desainer hanya dapat dinilai ketika pengguna dan desainer lain meninjau persyaratan atau yang sebaiknya dilakukan, yang dapat dibantu dengan penggunaan skenario dan desain awal atau prototipe. Beberapa keperluan atau persyaratan untuk kegiatan atau sebuah proyek UX, antara lain:

  • Requirements gathering

Merupakan tahap pertama dari proses UX atau dapat dianggap sebagai dasar dari sebuah proyek UX. Tahap ini merupakan tahap untuk menemukan konten apa yang tepat dan berapa jumlah konten yang tepat yang memenuhi persyaratan, agar proyek tersebut dapat berjalan dengan sukses. Untuk mendapatkan konten yang tepat ini, kita dapat mendapatkannya dengan menanyakan pertanyaan yang tepat kepada masyarakat dan pemegang saham.

  • Product requirements

Tahap ini membahas tentang persyaratan suatu produk, mulai dari arti, deskripsi, fitur, dan fungsionalitasnya. Beberapa yang harus dipikirkan antara lain seperti apa yang dapat dilakukan dan fungsionalitas produk tersebut. Apa saja yang harus ada dalam menyempurnakan produk tersebut, berapa dan bagaimana parameternya bekerja, apakah produk ini perlu di maintenance atau tidak, dapatkah produk ini digantikan dengan bahan atau produk lain, dan sebagainya

  • User requirements

Maksud dari tahap ini adalah untuk mengetahui informasi mengenai berbagai macam tipe dan kelas-kelas pengguna yang mungkin dapat menggunakan produk ini. Karena dengan mengetahui gaya hidup, kondisi, ekspetasi dan selera target pasarnya, maka semakin bagus pula produk UX yang dapat ditawarkan kepada pengguna, karena dapat menyediakan kebutuhan yang mereka perlukan secara akurat, dapat mengikuti tren pasar mengenai apa yang menjadi ketertarikan pengguna, dan sapat mengetahui siapa target pasar utama dan usia dari pengguna produk ini. Selain itu tahap ini juga membantu kita untuk mengetahui bagaimana cara memuaskan pengguna, bagaimana agar suatu produk ini berguna dan mudah digunakan atau diakses oleh penggunanya, berapa batas harga yang akan dikeluarkan pengguna untuk produk ini, dan apakah produk ini cukup interaktif dengan penggunanya.

  • Business requirements

Tahap ini mengacu pada semua aspek dalam suatu proyek yang berhubungan dengan keperluan bisnis dari produk ini, antara lain seperti branding, garis penanda dalam suatu kurun waktu (timeline), tujuan bisnis, tujuan marketing, kompetitor, target penjualan, customer service, dan lain-lain. Meskipun tidak berhubungan secara langsung, namun beberapa ketentuan bisnis tersebut dapat mempengaruhi designer UX dalam membuat produk desain UX nya. Misalnya dalam suatu produk harus tertera branding dari perusahaan tersebut, dan menampilkan timeline agar seluruh deadline untuk pengembangan dan desain dapat terselesaikan secara tepat waktu dan sukses mengevaluasi seluruh fitur yang memungkinkan untuk dimasukkan kedalam suatu produk agar dapat menarik dari sisi pengguna, sehingga produk tersebut memiliki nilai jual yang baik.

Selain itu tahap ini berguna bagi designer UX untuk mengetahui branding seperti apa yang harus dimiliki, apa saja kompetitor dari produk yang ingin dibuat ini, apa keunggulan dari produk yang didesign ini dengan punya kompetitor, bagaimana produk ini dapat dijual, bagaimana pengiklanannya, kira-kira masalah apa yang akan dialami oleh produk ini, dan bagaimana cara penyelesaiannya, dan apakah pemegang saham tertarik dengan produk tersebut

  • Technical requirements

Merupakan tahap yang mengarah kepada seluruh keperluan dan persyaratan terkait spesifikasi dan teknikal bagaimana dan dimana produk itu dapat bekerja. Keperluan teknikal ini menjelaskan tentang spesifikasi dalam mengimplementasikan produk yang akan dibuat. Dengan keperluan teknikal ini kita dapat mengetahui di operating system mana produk tersebut dapat dibangun (seperti iOS, Android, aatau wiindows, dll), dengan perangkat apakah produk ini dapat dijalankan (seperti mobile phone, tablet, desktop, dll), dan apakah ada kesempatan dan batasan bagi produk ini terkait dengan teknologinya.

  • Requirements generation

Artinya desainer UX diharapkan untuk memenuhi keperluan bagi generasi, sehingga desainer UX disarankan untuk membuat aktivitas produk yang lebih kreatif, yang cenderung menekankan tautan ke praktik saat ini.

  • Requirement elicitation

Merupakan tahap pertama dari rekayasa kebutuhan perangkat lunak, seperti mencari tahu apa nama aplikasi, dan layanan apa yang harus disediakan oleh sistem, kinerja sistem yang diperlukan, perangkat keras, dan yang menunjukkan beberapa interaksi antara pemangku kepentingan dan desainer. Elisitasi ini melibatkan berbagai jenis orang dalam suatu organisasi, dimana pemangku kepentingan sistem merupakan siapa saja yang memiliki pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap keperluan sistem. Pemangku kepentingan ini termasuk pengguna akhir yang berinteraksi dengan produk yang akan dihasilkan. Pemangku kepentingan lain mungkin merupakan praktisi yang melakukan pemeliharaan dan pengembangan, seperti pakar domain, manajer bisnis, dan perwakilan serikat pekerja.

Pada requirement elicitation ini dibagi lagi menjadi beberapa requirement, antara lain:

    • Requirements discovery, proses interaksi bagi pemangku kepentingan sistem untuk mengetahui kebutuhan mereka
    • Requirements classification and organization, mengambil kumpulan kebutuhan yang tidak terstruktur, namun berhubungan dengan kelompok, sehingga diklasifikasikan dan di organisasikan kedalam suatu kelompok yang koheren
    • Requirements prioritization and negotiation, Ketika banyak pemangku kepentingan yang terlibat, maka keperluan yang bertentangan ini tidak dapat dihindari, sehingga kegiatan ini akan memprioritaskan kebutuhan utama, dan menyelesaikan perbedaan keperluan ini melalui negosiasi, dan menyepakati hasil dari kompromi mengenai keperluan tersebut.
    • Requirements spesification, keperluan dan persyaratan kemudian di dokumentasikan dan dimasukkan ke dalam tahan berikutnya, dimana dokumen kebutuhan formal dan informal akan dihasilkan.
    • Requirements engineering: Merupakan tahap yang seringkali digunakan dalam proyek rekayasa perangkat lunak, dan biasanya menggunakan pendekatan yang sangat formal.

Selain itu pengembang dan desainer UX juga membutuhkan spesifikasi persyaratan yang jelas di beberapa titik dalam proses pengembangan agar mereka dapat memperkirakan beban proyek tersebut dan dapat mengelolanya hingga sukses. Spesifikasi persyaratan dan keperluan ini mencakup prototype, tangkapan layar dan media lainnya. Sehingga ketika ditulis, keperluan itu harus diungkapkan dengan bahasa yang jelas dan tidak ambigu dalam ukuran dan katanya.

Template requirements

Penggunaan format standar, atau template, untuk menentukan persyaratan berguna. Penyajian informasi yang tepat bukanlah tujuan utama, tetapi minimal template tersebut harus mencakup setiap persyaratan atau keperluan, yaitu:

  • Nomor referensi unik, idealnya dapat berbentuk coding, apakah keperluan atau persyaratan tersebut berfungsi secara fungsional atau non-fungsional
  • Ringkasan satu kalimat
  • Sumber persyaratan
  • Alasan yang rasional untuk keperluan atau peryaratan tersebut.

Menurut Robertson dan Robertson (2012), ada beberapa elemen lain yang dapat menambah nilai spesifikasi keperluan atau persyaratan dalam suatu produk, antara lain:

  • Kriteria untuk mengukur apakah suatu keperluan atau persyaratan telah terpenuhi
  • Nilai untuk mengukur seberapa pentingnya suatu keperluan atau persyaratan, misalnya dengan menggunakan skala penilaian 1 – 5.
  • Ketergantungan dan konflik dengan keperluan dan persyaratan lain
  • Mengubah riwayat.

Contoh template requirements:

Umumnya, keperluan atau persyaratan ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu yang fungsional dan non-fungsional. Keperluan atau persyaratan fungsional merupakan apa yang harus dilakukan sistem, sementara non fungsional keperluan atau persyaratan merupakan kualitas yang harus dimiliki sistem. Kualitas ini mungkin menjadi faktor penting dalam penerimaan, penjualan atau penggunaan suatu produk. Keperluan dan persyaratan non-fungsional ini mencakup aspek desain, termasuk gambar dan estetika, kegunaan, UX, per-bentuk, pemeliharaan, keamanan, penerimaan budaya dan pembatasan hukum, dan data atau media dari sistem apapun yang diperlukan untuk membuat berbagai jenis konten. Semua keperluan dan persyaratan ini memerlukan teknologi dalam pemenuhannya. Untuk memenuhi keperluan dan persyaratan yang dibutuhkan, diperlukan beberapa bukti pendukung agar pembaca spesifikasi persyaratan mengerti apa yang ingin disampaikan, antara lain bukti berupa hasil wawancara atau observasi laporan, foto artefak, cuplikan video, dan lainnnya. Untuk mengklasifikasikan beberapa keperluan dan persyaratan, kita dapat menggunakan aturan ‘MoSCoW’, yang isinya berupa:

  • Must have – Merupakan keperluan atau persyaratan dasar yang utama, karena tanpanya sistem tidak dapat berfungi dan menjadi tidak berguna, dan mengefektifkan subset minimum yang dapat digunakan.
  • Should have – Merupakan keperluan atau persayaratan yang seharusnya akan menjadi penting, apabila memiliki waktu yang lebih banyak, namun sistem tetap dapat berjalan dan berguna tanpa adanya mereka.
  • Could have – Keperluan atau persyaratan ini kurang penting dibandingkan yang lain, sehingga menjadi lebih mudah ditinggalkan dari perkembangan yang dilakukan saat ini.
  • Want to have but Won’t have this time round – Tidak menjadi suatu keperluan atau persyaratan, karena kita dapat menunggu hingga perkembangan yang berikutnya.

Referensi:

Benyon, David. (2019). Designing User Experience: A guide to HCI, UX and interaction design (4th Edition). United Kingdom: Pearson.

https://www.krasamo.com/understanding-the-requirement-gathering-process-for-ui-ux-projects/

https://blog.prototypr.io/how-to-capture-ux-project-requirements-e1ba9b5174bb

Britney Alexandra, Ferdianto