People Innovation Excellence
 

Sejumlah pelaku usaha kini sudah mulai gencar menerapkan konsep online to offline (O2O) di pusat-pusat perbelanjaan. Perkembangan teknologi dan perubahan perilaku konsumen membuat pelaku usaha, terutama di mal, harus menyesuaikan diri, salah satunya dengan mengkolaborasikan kedua konsep tersebut sebagai langkah win-win solution.

Pada Rabu (13/12/2017) kemarin, GoToMalls.com menyatakan pihaknya bekerja sama dengan PayPro sebagai penyedia fitur pembayaran e-wallet terintegrasi. Melalui kerja sama itu, pengunjung mal bisa berbelanja secara non tunai, digantikan dengan dompet elektronik yang ada di ponsel mereka.

“Setelah redeem kupon dan melakukan pembayaran menggunakan PayPro maka smart shoppers dapat menikmati keuntungan ekstra berupa diskon tambahan maupun cashback,” kata Chief Marketing Officer PayPro, Adelheid Helena Bokau, melalui keterangan tertulis yang diterima Kompas.com pada Kamis (14/12/2017).

Sebagai langkah awal, pembayaran non tunai itu bisa dinikmati di MalAlam Sutera di Tangerang. Dengan mendorong konsumen menggunakan fitur pembayaran non tunai berikut dengan diskon dan promosi yang diberikan, dinilai dapat meningkatkan penjualan di merchant-merchant offline.

Salah satu pengunjung mal yang mulai beralih ke sistem pembayaran non tunai, Ana, mengaku awalnya ragu menggunakan sistem itu yang termasuk baru. Namun, setelah dia mengunduh aplikasi tersebut di ponselnya, Ana langsung merasakan manfaat tambahan bagi dirinya ketimbang menggunakan uang tunai seperti biasanya.

“Saya pakai OVO yang punya Lippo, itu di mal delapan jam bayar parkir cuma Rp 1. Lumayan banget kan,” tutur Ana secara terpisah.

Selain bayar parkir kendaraan yang jauh lebih murah dari tarif pada umumnya, Ana juga senang ada promo cashback setiap dia berbelanja di merchant pusat perbelanjaan milik Lippo. Termasuk dengan promo cashback di tenant food and beverages yang nilainya cukup besar, sehingga bisa menghemat pengeluaran.

Pengunjung mal lainnya, Marisa, mengaku sudah tahu dari lama tentang konsep online to offline yang kini mulai ramai digunakan. Dia juga sudah diajak oleh kakaknya untuk beralih menggunakan sistem itu karena lebih banyak keuntungan.

“Mungkin nanti saya mau coba, soalnya masih awam banget sama yang kayak gitu-gitu. Kayaknya sih memang bagus ya,” ujar Marisa.

Penerapan O2O di pusat-pusat perbelanjaan makin berkembang seiring dengan kemajuan teknologi yang menopang kegiatan e-commerce. Pemerintah melalui sejumlah lembaga dan kementerian terkait saat ini sedang meramu kebijakan untuk menerapkan aturan main kegiatan e-commerce, termasuk skema pengenaan pajaknya.

Mal Sepi, Daya Beli Turun?

Rata-rata tingkat kekosongan pusat perbelanjaan mal di Jakarta naik ke angka 10,8 persen. Begitu data yang disampaikan lembaga konsultan properti Savills belum lama ini. Apa itu tandanya daya beli masyarakat mengalami penurunan? Direktur Statistik Harga BPS Yunita Rusanti menuturkan, daya beli masyarakat justru masih normal tidak ada penurunan.

“Orang melihat kok pasar sepi yah. Apakah di daerah merata? Menurut saya Jakarta di beberapa mal agak turun karena ada (perdagangan) online. Orang beli (secara) online,” ujarnya di Kantor BPS, Jakarta, Selasa (1/8/2017).

BPS lebih melihat adanya perubahan pola belanja masyarakat ketimbang penurunan daya beli. Sebab data hunian hotel yang dimiliki BPS justru menunjukan adanya peningkatan selama musim liburan anak sekolah Juli 2017 lalu. Selain itu, BPS menduga sepinya mal di Jakarta juga disebabkan kondisi lalu lintas. Saat ini, Jakarta sedang melakukan banyak pembangunan yang menyebabkan kemacetan semakin parah.

“Orang cenderung malas ke luar jadi pada beli online. Jadi bukan daya beli, daya beli masih normal,” kata Yunita. Sementara itu Kepala BPS Suharyanto menilai prediksi penurunan penjualan sepeda motor di semester I 2017 bisa jadi bukan indikasi penurunan daya beli namun lantaran masyarakat menahan belanja.

“Kemungkinan besar konsumsi rumah tangga di PDB masih akan menguat karena adanya Lebaran dan Ramadhan, walaupun tidak akan setinggi yang diekspektasikan sebelumnya,” ucapnya.

Sumber :

http://ekonomi.kompas.com/read/2017/12/14/094500526/menyimak-perkembangan-online-to-offline-di-mal


Published at : Updated
Written By
Sulistyo Heripracoyo
Subject Content Coordinator | School of Information Systems http://sis.binus.ac.id/
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close