Korea Selatan? Mendengar nama negaranya saja, banyak orang akan berteriak histeris. Apalagi, bila ditambah bayangan wajah personel boyband/girlband impian. Begitu pula saya. Saat nama saya diajukan oleh Ibu Yanti, S.Kom, MM (saat itu menjabat sebagai Kepala jurusan KA) sebagai kandidat penerima beasiswa program pertukaran pelajar ke Korea Selatan untuk Musim Gugur 2011, saya girang bukan main. Ketika dinyatakan lolos, saya malah bertanya, “Ini beneran bukan mimpi?”

Seoul, Annyeong-Haseyo!

Tanggal 25 Agustus 2011 sore, saya berangkat dari Bandara Soekarno Hatta diantar oleh keluarga, sahabat, dan seorang staf International Office (IO) Binus, Miss Jilly. Saya tiba di Bandara Internasional Incheon esok harinya, pukul 7 pagi. Ketika menunggu, saya bertemu dan mengobrol dengan peserta program yang sama asal Perancis. Since that,I know that this semester will be extremely interesting!Sekitar pukul 9, staf IO dari Kyung Hee University tiba. Bersama dengan mahasiswa-mahasiswi dari berbagai bangsa (Vietnam, Maroko, Laos, Belanda, Jerman, Hungaria, dll) lainnya, saya menuju ke kampus dengan bus.

Saya tinggal di asrama on-campus, akrab disebut “Sewhawon Kisuksa” dan berbagi kamar dengan seorang mahasiswi asal Iran yang sangat baik hati. Hanya saja, karena pelafalan namanya sangat sulit (terdapat konsonan yang tidak dikenal dalam bahasa Indonesia), maka hingga akhir semester saya tidak pernah bisa menyebut namanya dengan benar! Hahaha. Sebagai pengalaman pertama tinggal berasrama (dan berbagi kamar dengan orang asing), saya sangat bersyukur dapat melewatinya dengan baik dan bahkan menyukainya. Bahkan karena terlalu akrab dan senang mengobrol, kami tidak boleh dibiarkan belajar di satu kamar. Biasanya, saya akan belajar di study room dan ia belajar di kamar. Karena saya di luar, maka ia selalu ‘membekali’ saya dengan kacang-kacangan dan buah aprikot kering khas Iran untuk menemani saya belajar! So sweet…  Padahal, cukup banyak teman yang pindah kamar karena tidak cocok dengan roommate-nya lho!

Jatuh Cinta dengan… BELAJAR

Saya mengambil 4 mata kuliah (setara dengan 18 SKS) dan 6 SKS lewat online learning Binusmaya. Dosen saya kebetulan semuanya non-Korea: 2 dosen berkebangsaan Kanada, 1 berasal dari Leichestein-Austria, dan 1 lagi seorang mahasiswi Phd berkebangsaan Cina.

Kalau banyak orang jatuh cinta dengan boyband, bolehlah saya jatuh cinta dengan sistem pendidikan di Korea (kedengaran nerd sekali ya? Hehehe). Kyung Hee University merupakan universitas nasional swasta (bukan internasional) tetapi menyediakan 3 jenis kelas yang dapat dipilih seluruh mahasiswanya: kelas yang sepenuhnya diselenggarakan dalam bahasa Korea, kelas dwibahasa (setengah Korea setengah Inggris), dan kelas yang sepenuhnya berbahasa Inggris (dosennya biasanya orang asing). Itu baru dari kurikulumnya. Dari segi pengajar, para dosen sangat antusias ketika mengajar. Di mata kuliah InternationalBusiness, misalnya, kelas saya didatangi oleh Duta Besar Chile, Duta Besar Irlandia, serta CEO perusahaan head-hunting di Korea. Tidak kalah menarik, dosen untuk mata kuliah Business Ethics juga mengundang Direktur Anti-Corruption and Civil Right Commission Korea Selatan, yang begitu tahu saya mahasiswi asal Indonesia, langsung menceritakan hubungan baik komisi anti korupsi Korea Selatan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Indonesia.

Mendengar cerita saya, beberapa orang pasti kemudian berpikir: “Beda lah dosen Korea dengan dosen Indonesia.” Weits, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Ada baiknya para mahasiswa interospeksi diri. Sekadar info, sepengalaman saya, mahasiswa di sana senang teriak-teriak saat mengobrol. Hanya saja, begitu dosen masuk, semuanya konsentrasi belajar. Bukan itu saja, umumnya mahasiswa Korea mempersiapkan diri untuk ujian sekitar 2 minggu hingga 1 bulan sebelum ujian! Jadi, jangan kaget apabila melihat banyak mahasiswa membawa selimut dan bantal ke perpustakaan dan study room yang tersedia.

 

Jangan Jadi Mahasiswa Kupu-Kupu

BINUS University mengirimkan 6 orang untuk program pertukaran pelajar Musim Gugur 2011: 3 orang di Kyung Hee University – Seoul (termasuk saya), 2 orang di Inha University – Incheon, dan 1 orang di Daejon University – Daejon. Satu orang di tiap universitas memperoleh beasiswa dari Pemerintah Korea Selatan, yang mana beasiswa tersebut meng-cover biaya pesawat PP, biaya hidup, serta asuransi jiwa. Peserta program tidak dikenakan biaya kuliah di Korea karena biaya kuliah tetap dibayarkan ke Binus University seperti biasa. Beasiswa diberikan berdasarkan list nama yang direkomendasikan oleh tiap-tiap jurusan. Kebetulan, saya (dalam tim) memang beberapa kali mewakili Universitas di berbagai perlombaan Nasional dan Internasional seperti APEX Business-IT Case Challenge di Singapura (semi-finalist) dan Business Case Competition Himsisfo (juara 1). Teman lainnya yang juga mendapatkan beasiswa, Jasmine Widiasari, adalah aktivis HIME (Himpunan Mahasiswa Manajemen). Makanya, jangan pernah ragu berkarya dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan-kegiatan universitas dan jurusan ya! Banyak kesempatan, pembelajaran, dan pengalaman bisa didapat daripada sekedar menjadi mahasiswa kuliah-pulang-kuliah-pulang (“kupu-kupu”).

 

Seperti ungkapan khas masyarakat Korea: “화이팅!”(dibaca:Fighting!). Salam semangat! J

-Nia Utami Tirdanatan-

Mahasiswi Semester 8, Jurusan ganda Sistem Informasi dan Akuntansi