Mobility pada Mobile Apps: Definisi, Elemen Pengukur, dan Contoh Kasus
Dalam era digital yang didominasi oleh perangkat seluler, konsep mobility telah menjadi aspek fundamental dalam pengembangan aplikasi mobile. Mobility tidak hanya sekadar tentang kemampuan aplikasi untuk berjalan di perangkat portabel, tetapi mencakup seluruh siklus hidup aplikasi yang memungkinkannya beradaptasi, berevolusi, dan bertahan dalam ekosistem mobile yang dinamis.
Apa itu Mobility pada Mobile Apps?
Mobility dalam konteks aplikasi mobile mengacu pada kapasitas aplikasi untuk mempertahankan fungsionalitas, kinerja, dan nilai bagi pengguna dalam lingkungan yang terus berubah. Ini mencakup kemampuan aplikasi untuk:
- Beroperasi secara efektif di berbagai kondisi jaringan dan perangkat
- Beradaptasi dengan pembaruan sistem operasi dan hardware
- Memenuhi kebutuhan pengguna yang terus berkembang
- Bertahan dalam persaingan pasar aplikasi yang ketat
Mobility yang baik tercermin dari kemampuan aplikasi untuk melalui seluruh siklus hidupnya secara sukses, dari deployment hingga pemeliharaan jangka panjang.
Apa saja Elemen Pengukur Mobility?

Mobility dapat diukur melalui 8 elemen, sebagai berikut:
1. Requirements
Kemampuan aplikasi untuk memenuhi kebutuhan fungsional dan non-fungsional yang ditetapkan. Requirements mobile application berfokus pada kemampuan untuk berjalan pada konfigurasi yang didukung, serta menangani berbagai lingkungan atau komponen yang hilang.
2. Installability
Kapasitas aplikasi untuk dapat diinstal dengan mudah pada platform target. Installability berkaitan erat dengan bagaimana aplikasi dapat diinstal pada platform target. Ini termasuk kemampuan untuk berjalan pada konfigurasi yang didukung dan menangani berbagai lingkungan atau komponen yang mungkin hilang.
3. Upgradability
Kemudahan dalam melakukan pembaruan aplikasi. Upgradability berkaitan dengan kemudahan upgrading ke versi yang lebih baru tanpa kehilangan pengaturan dan konfigurasi komponen yang berbeda.
4. Uninstallation
Tingkat di mana pengguna dapat menghapus aplikasi dengan mudah dan bersih. Uninstallation berfokus pada penghapusan sumber daya ketika pengguna tidak puas dengan aplikasi yang diinstal, termasuk penghapusan entri dan file yang terkait.
5. Configuration
Fleksibilitas aplikasi dalam menyesuaikan dengan berbagai konfigurasi. Configuration mempertimbangkan seberapa mudah instalasi dapat dikonfigurasi dengan cara atau di tempat yang berbeda untuk mendukung kebutuhan pengguna.
6. Deployability
Kemudahan dalam mendistribusikan dan mengimplementasikan aplikasi. Deployability berkonsentrasi pada bagaimana aplikasi dapat di-deploy dalam berbagai jenis lingkungan yang terbatas.
7. Maintainability
Kemudahan dalam memelihara dan memperbaiki aplikasi. Maintainability adalah tentang seberapa mudah memelihara aplikasi dan mendukung pengguna, termasuk kemampuan untuk menambah, memodifikasi, atau menghapus fungsi tanpa merusak aplikasi saat ini.
8. Testability
Tingkat kemudahan dalam melakukan pengujian aplikasi. Testability adalah tentang seberapa efektif aplikasi yang di-deploy dapat diuji oleh pengguna, termasuk pengujian unit, regresi, dan pengujian pada perangkat target.
Contoh Kasus: Aplikasi E-Commerce Mobile
Sebuah aplikasi e-commerce mobile yang sukses menerapkan konsep mobility dengan baik:
Requirements: Memenuhi kebutuhan pengguna akan pengalaman berbelanja yang lancar, aman, dan efisien pada berbagai konfigurasi perangkat. Misalnya: pencarian produk dengan filter, push notification untuk order tracking, dukungan multi language
Installability: Dapat diinstal dengan mudah pada berbagai versi Android dan iOS melalui app store, dengan ukuran aplikasi yang optimal untuk mengunduh.
Upgradability: Rilis pembaruan rutin setiap dua minggu dengan fitur baru dan perbaikan bug tanpa kehilangan pengaturan pengguna.
Uninstallation: Memungkinkan penghapusan yang bersih tanpa meninggalkan residu file yang tidak diperlukan di perangkat pengguna.
Configuration: Mendukung berbagai konfigurasi bahasa, mata uang, dan preferensi tampilan sesuai dengan lokasi pengguna.
Deployability: Proses deployment yang terotomasi ke berbagai app store dengan dukungan untuk lingkungan yang terbatas seperti batasan jaringan, storage, dan kemampuan device. Misalnya, menggunakan conditional content loading atau image lazy loading dengan placeholder saat jaringan sedang lemah
Maintainability: Arsitektur modular yang memungkinkan pemeliharaan fitur secara independen dan dukungan pengguna yang responsif. Arsitektur modular ini seperti menggunakan arsitektur yang jelas misalnya auth/ untuk fitur autentikasi, product/ untuk manajemen produk yang dikelompokkan pada features/. Hal ini akan membuat pemeliharaan akan menjadi lebih mudah.
Testability: Automated testing suite yang mencakup berbagai skenario testing, seperti unit testing, integration testing, system testing end-to-end testing, dan user acceptance testing termasuk konektivitas jaringan dan perubahan orientasi perangkat.
Referensi:
- Mohamed Sarrab, Hafedh Al-Shihi, and Naveen Safia (2021). Handbook of Mobile Application Development: A Guide to Selecting the Right Engineering and Quality Features. Singapore: Bentham Science Publishers.