Ketika kita berbicara tentang teknologi komputer atau sistem informasi, pasti kita tidak asing dengan yang namanya API (Application Programming Interface). Seperti yang kita ketahui, API digunakan alat komunikasi antar sistem di dalam komputer, salah satu contohnya adalah komunikasi data antara sistem frontend dan backend pada suatu aplikasi berbasis website.   

Selama beberapa tahun terakhir, dunia pemrograman mengalami perkembangan yang cukup pesat. Salah satu kategori yang mengalami hal tersebut adalah pengembangan sistem dengan menggunakan API. Berdasarkan riset terbaru dari NordicAPI dan Strapi, terdapat pertumbuhan signifikan dalam pengembangan Teknik API yang digunakan developer di berbagai belahan dunia. Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa 83% developer lebih memilih pendekatan pengembangan Teknik dengan menggunakan RESTful untuk kesederhanaan dan kemudahan dalam penggunaan API. Akan tetapi, perkembangan Teknik-teknik API terbaru mulai mendapat perhatian tersendiri dalam ekosistem pengembangan aplikasi modern. 

Berdasarkan riset berbasis case study yang dilakukan oleh Perusahaan TMForum menyatakan bahwa Perusahaan yang menggunakan API development modern berhasil memangkas waktu persiapan rilis aplikasi dari hitungan bulan menjadi hari, selain itu penggunaan API development modern memudahkan proses debugging dan juga meningkatkan kualitas dari aplikasi tersebut. Mari kita jabarkan 5 teknik pengembangan API yang paling trend di tahun 2025: 

  • REST API 

REST (Representational State Transfer) API adalah salah satu Teknik API yang paling sering dipakai di tahun 2025 dengan Tingkat preferensi 83% di dunia. Teknik API ini ditemukan pada tahun 2000 oleh Roy Fielding dengan tujuan untuk menciptakan sebuah standar agar antar server di belahan dunia dapat saling berkomunikasi. Teknik ini menggunakan protocol HTTP (Hypertext Transfer Protocol Secure) dengan standar metode yang popular yaitu GET, POST, PUT, DELETE dan OPTION yang digunakan untuk operasi CRUD (Create, Read, Update, Delete) pada suatu aplikasi. Berikut adalah penjelasan lebih lengkap tentang HTTP method pada REST API: 

  1. GET, adalah method HTTP yang digunakan untuk mengambil informasi dari server 
  2. POST, adalah method HTTP yang digunakan untuk mengirim data ke server 
  3. PUT, adalah method HTTP yang digunakan untuk mengupdate data dari server 
  4. DELETE, adalah method HTTP yang digunakan untuk delete data dari server 
  5. OPTIONS, adalah method HTTP yang digunakan untuk memvalidasi method apa saja yang diperbolehkan masuk ke dalam API tersebut. Misalnya kita ingin mengakses domain https://binusapi/student/getdata, dengan menggunakan method options server akan memvalidasi apakah pengakses diperbolehkan untuk menggunakan domain API tersebut atau tidak, konteks validasi didasari pada jenis HTTP method yang diperbolehkan, header API yang digunakan dan origin yang diizinkan untuk mengakses. REST API menawarkan kesederhanaan arsitektur yang mudah dipahami dan digunakan. REST API memudahkan developer untuk melakukan scaling dan load balancing pada server dan cache management untuk meningkatkan performa suatu aplikasi. Selain itu, REST API juga memiliki dokumentasi yang luas sehingga memudahkan developer untuk merancang dan implementasi aplikasi dengan bantuan REST API.  
  • GraphQL  

GraphQL adalah Teknik API yang cukup populer bagi kalangan programmer, GraphQL pertama kali ditemukan oleh Facebook pada tahun 2012 dan dirilis dalam bentuk open source pada tahun 2015. Seiring berjalannya waktu graphQL mengalami evolusi signifikan, yang bermula dikhususkan untuk internal Facebook dalam menangani masalah kompleks pada data fetching mereka, kini telah menjadi salah satu API yang paling diminati di industri global. Berbeda dari API tradisional, GraphQL menawarkan sensasi baru kepada client agar dapat menentukan data apa saja yang mereka butuhkan saat proses pengiriman maupun fetching API.  

Pada tahun 2010, Facebook mengalami tantangan tersendiri dalam melakukan pengembangan aplikasi facebook berbasis mobile. Mereka menyadari bahwa REST API tradisional tidak efisien untuk pengembangan aplikasi mobile karena keterbatasan bandwith dan processing power. Masalah overfetching (client menerima lebih banyak data dari yang dibutuhkan) dan underfetching (client harus melakukan multiple request untuk mengambil data) menjadi masalah tersendiri bagi pengguna Rest API tradisional. Hal ini yang mendorong tim internal Facebook untuk menciptakan Solusi yang efektif pada permasalahan yang dihadapi.  

Arsitektur GraphQL beroperasi dengan prinsip yang berbeda dari REST API. Jika REST API menggunakan multiple endpoint untuk akses berbagai resources, GraphQL hanya menggunakan single endpoint untuk semua operasi. GraphQL memiliki 3 operasi untuk mengakses resources yaitu Query, Mutation, dan Subscription. Dikarenakan hal ini, beberapa industri mulai beralih dari REST API tradisional menjadi graphQL.  

  •  gRPC (Google Remote Procedure Call) 

GRPC (Google Remote Procedure Call) adalah sebuah kerangka API yang diperuntukkan untuk komunikasi data antar server, GRPC ini dikembangkan oleh Google pada tahun 2015 sebagai evolusi dari sistem RPC internal mereka. Berbeda dari REST API yang menggunakan protokol HTTP/1.1, yang mana protokol ini menggunakan format JSON untuk proses Request (proses kirim data) ke server dan Response (proses mengambil data) dari server. Sedangkan gRPC menggunakan protokol HTTP/2 dan protocol buffers (protobuf) untuk serialization mechanism (Teknik yang digunakan untuk mengkonversi objek atau struktur data menjadi bentuk biner). Untuk proses pengiriman (POST) dan pengambilan (GET) data, gRPC menggunakan protobuf yang didefinisikan dengan suatu file dengan extension .proto yang dengan sistem kompilasi protoc. Dengan sistem kompilasi protoc yang dapat dikonversi ke bahasa pemrograman lainnya. Protobuf menggunakan sistem binary encoding yang menghasilkan ukuran payload 3 – 10 kali lebih kecil dibanding menggunakan JSON. Proses serialization dan deserialization protobuf 100 kali lebih cepat dibanding menggunakan JSON sehingga dapat meminimalisir network latency dan bandwith consumption. Terdapat 4 jenis komunikasi pada gRPC: 

  1. UnaryRPC, pattern tradisional request-response dimana client mengirim single request dan menerima single response. (bisa digunakan untuk proses CRUD). 
  2. Server Streaming RPC, client mengirim single request, dan server merespons dengan stream of messages. (bisa digunakan untuk real-time notifications). 
  3. Client Streaming, client mengirimkan stream of messages, server merespons dengan single respons. (bisa digunakan untuk upload multiple files secara bersamaan). 
  4. Bidirectional Streaming RPC, antara client dan server mengirim stream of messages secara independen. (bisa digunakan untuk aplikasi realtime chat). 
  • Websocket API 

Websocket API adalah suatu kerangka sistem yang membuat komunikasi 2 arah yang persisten dan dupleks penuh antara klien dan server. Berbeda dari HTTP request response yang bersifat stateless, Websocket memungkinkan pertukaran data yang bersifat continue dan bidirectional (komunikasi 2 arah) tanpa perlu membuka koneksi pada setiap transaksi data. 

Websocket beroperasi dengan protokol TCP dan menggunakan HTTP handshake untuk melakukan upgrade connection dari HTTP ke Websocket protocol. Setelah koneksi terbuat, transfer atau komunikasi antar data dilakukan dengan Websocket frames yang memiliki overhead minimal dibandingkan HTTP headers yang berulang-ulang. 

Keunggulan utama dari Websocket protocol adalah kemampuan untuk berkomunikasi secara real-time dengan latensi rendah. Server dapat mengirim data ke client secara proactive tanpa harus menunggu request dari client. Sehingga server dapat memberikan instant notifications ke client. Hal ini berbeda dari traditional polling yang mengharuskan request secara berulang-ulang untuk mendapatkan data terbaru. 

Ketika mengimplementasi Websocket terdapat event-driven yang dapat digunakan seperti method on open (method yang digunakan untuk memulai sebuah koneksi pada websocket), on message (ketika menerima data), on error (ketika terjadi error) dan on close (ketika ingin menutup koneksi dari websocket). 

  • Serverless API 

Serverless API Architecture menggambarkan paradigma fundamental yang mengubah cara developer membangun, deploy dan mengelola API dalam ekosistem cloud modern. Berbeda dengan pendekatan tradisional yang memerlukan provisioning dan maintenance server, serverless memungkinkan developer untuk fokus sepenuhnya pada business logic tanpa memikirkan infrastructure management. 

Serverless API beroperasi berdasarkan model Function-as-a-Service (FaaS) dimana setiap endpoint API diimplementasikan sebagai individual functions yang dieksekusi on-demand. Ketika client melakukan API call, cloud provider secara otomatis menjalankan function yang relevan, memproses request, dan mengembalikan response. Setelah eksekusi selesai, function kembali ke idle state tanpa mengkonsumsi resources. 

Serverless API mengadopsi event-driven architecture dimana functions dipicu oleh berbagai jenis events seperti HTTP requests, database changes, file uploads, atau scheduled tasks. Fleksibilitas ini memungkinkan integration yang seamless dengan berbagai cloud services dan menciptakan reactive systems yang responsif terhadap business events. 

Auto-scaling capability merupakan keunggulan utama serverless architecture. System secara otomatis menyesuaikan jumlah concurrent function executions berdasarkan incoming traffic. Dari zero requests hingga thousands of concurrent executions dapat ditangani tanpa manual intervention atau capacity planning. Hal ini sangat valuable untuk applications dengan unpredictable traffic patterns atau seasonal spikes.