Konsep superagency yang diperkenalkan oleh Reid Hoffman dan diperdalam oleh McKinsey bukan sekadar istilah baru dalam dunia teknologi, melainkan sebuah paradigma yang berpotensi mengubah cara manusia bekerja, berkreasi, dan berinteraksi dengan dunia. Superagency menekankan bahwa AI bukan hanya alat bantu, melainkan mitra yang memperluas kapasitas manusia. Jika revolusi industri dulu ditopang oleh energi uap dan listrik, maka revolusi kognitif saat ini digerakkan oleh kecerdasan buatan. Superagency adalah kondisi ketika individu maupun organisasi, dengan dukungan AI, mampu meningkatkan kreativitas, produktivitas, dan dampak positif secara berlipat ganda. Hoffman menyebutnya sebagai cognitive industrial revolution, sebuah era dimana kemampuan berpikir manusia diperkuat oleh mesin yang mampu belajar, beradaptasi, dan bertindak. 

 

AI Sebagai Perpanjangan Kapasitas Manusia 

Reid Hoffman mengibaratkan kehadiran AI seperti revolusi smartphone.Pada awalnya, banyak kekhawatiran muncul mulai dari privasi hingga distraksi. Namun, seiring waktu, smartphone terbukti memperluas akses informasi dan membuka peluang baru. Demikian pula dengan AI: ia hadir sebagai kecerdasan sintetis yang bisa bertindak mandiri sekaligus mendukung manusia dalam berbagai aspek kehidupan. AI tidak hanya membantu menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, tetapi juga membuka ruang bagi manusia untuk fokus pada hal-hal yang lebih kreatif dan strategis. Dengan AI, seorang peneliti dapat menguji hipotesis lebih cepat, seorang guru dapat menyesuaikan metode belajar untuk setiap murid, dan seorang pemimpin bisnis dapat mengambil keputusan dengan data yang lebih kaya dan akurat. 

 

Superagency dalam Dunia Bisnis 

McKinsey menekankan bahwa superagency memiliki potensi besar dalam meningkatkan efektivitas organisasi. Karyawan yang didukung AI mampu menghasilkan ide lebih cepat, menyelesaikan tugas kompleks, dan beradaptasi dengan tantangan baru. Namun, hambatan terbesar bukan pada kesiapan karyawan, melainkan kepemimpinan yang belum cukup cepat mengarahkan adopsi AI. Perusahaanyang mampu mengintegrasikan AI dengan visi kepemimpinan yang jelas akan menjadi pionir dalam era baru ini. Mereka tidak hanya akan lebih produktif, tetapi juga lebih inovatif. AI dapat berperan sebagai “agen” di berbagai level individu, tim, hingga Perusahaan dengan kemampuan IQ (analisis) dan EQ (empati, komunikasi). 

 

Dampak Sosial Superagency 

Superagency tidak hanya relevan bagi dunia bisnis, tetapi juga membawa dampak sosial yang luas: 

  • Kesehatan: Terapis virtual berbasis AI dapat memperluas akses layanan mental, terutama di daerah yang kekurangan tenaga profesional. 
  • Pendidikan: Tutor berbasis AI memungkinkan setiap individu belajar sesuai kebutuhan, menciptakan pengalaman belajar yang lebih personal. 
  • Ilmiah: Peneliti dengan hipotesis unik bisa menggunakan AI untuk simulasi dan analisis data tanpa keterbatasan dana. 
  • Transportasi & layanan publik: AI mengoptimalkan rute bus, ATM multibahasa, hingga rehabilitasi medis berbasis sensor. 

Dengan kata lain, superagency membuka peluang bagi masyarakat untuk mendapatkan layanan yang lebih inklusif, efisien, dan berkualitas. 

 

Tantangan dan Risiko 

Meski peluangnya besar, superagency juga membawa tantangan yang tidak bisa diabaikan: 

  • Displacement pekerjaan: AI berpotensi menggantikan peran tertentu, menimbulkan kekhawatiran ekonomi. 
  • Privasi & data: Risiko penyalahgunaan data tetap tinggi, terutama jika regulasi tidak memadai. 
  • Atrofi keterampilan manusia: Ketergantungan berlebihan pada AI bisa melemahkan kemampuan dasar manusia. 
  • Dominasi korporasi: Ada potensi kontrol berlebihan dari perusahaan teknologi besar yang bisa mengurangi akses setara bagi masyarakat. 

Oleh karena itu, keseimbangan antara inovasi dan regulasi menjadi kunci agar superagency benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat luas. 

 

Masa Depan Superagency 

McKinsey menyoroti bahwa hampir semua perusahaan kini berinvestasi dalam AI, tetapi hanya 1% yang merasa sudah mencapai tingkat kematangan penuh. Artinya, perjalanan menuju superagency masih panjang. Namun, dengan kecepatan perkembangan AI saat ini, masa depan di mana agen-agen AI hadir di setiap aspek kehidupan bukanlah hal yang jauh. Reid Hoffman bahkan memprediksi bahwa dalam 5–10 tahun ke depan, kita akan melihat agen AI di mana-mana: agen untuk individu, tim, perusahaan, bahkan komunitas. Agen-agen ini tidak hanya cerdas secara analitis, tetapi juga mampu berempati, mendengarkan, dan berkomunikasi dengan cara yang lebih manusiawi. 

 

Kesimpulan 

Superagency bukan sekadar tren teknologi, melainkan paradigma baru yang menempatkan AI sebagai mesin kecerdasan untuk memperluas kapasitas manusia. Tantangan memang nyata, tetapi peluangnya jauh lebih besar. Dengan kepemimpinan yang visioner dan adopsi yang bijak,superagency dapat menjadi fondasi bagi revolusi kognitif yang membawa dampak positif bagi bisnis, masyarakat, dan peradaban. 

 

Referensi:
AI in the workplace learning modules | Tech and AI | McKinsey & Company