Berdasarkan data World Health Organization (WHO), sistem layanan kesehatan di banyak negara berkembang masih menghadapi tantangan besar, mulai dari fragmentasi data pasien, antrean layanan yang panjang, hingga keterbatasan akses informasi medis yang akurat dan real-time. Di Indonesia, tantangan tersebut terlihat dari masih terpisahnya data rekam medis antar fasilitas kesehatan, baik antara puskesmas, rumah sakit, maupun layanan kesehatan swasta. Kondisi ini sering kali menghambat kecepatan diagnosis, efektivitas pengobatan, serta kesinambungan perawatan pasien. 

Selain itu, tingginya mobilitas masyarakat dan kompleksitas layanan kesehatan modern membuat pengelolaan data kesehatan secara manual atau parsial menjadi semakin tidak relevan. Ketika data pasien tidak terintegrasi, tenaga medis harus mengulang proses pemeriksaan, verifikasi, dan administrasi yang seharusnya bisa diminimalkan dengan sistem informasi yang tepat. Dampaknya bukan hanya pada kualitas layanan, tetapi juga pada efisiensi biaya dan produktivitas tenaga kesehatan. 

Estonia merupakan salah satu negara yang sering dijadikan contoh global dalam penerapan sistem informasi sektor publik, termasuk di bidang kesehatan. Melalui sistem Estonia e-Health, pemerintah Estonia membangun layanan kesehatan berbasis digital yang terintegrasi secara nasional. Hampir seluruh data kesehatan warga negara Estonia—mulai dari rekam medis, resep obat, hasil laboratorium, hingga riwayat kunjungan—tersimpan dalam satu sistem terpusat yang dapat diakses secara aman oleh tenaga medis yang berwenang. 

Dengan memanfaatkan identitas digital nasional dan infrastruktur data terintegrasi, Estonia e-Health memungkinkan dokter untuk mengakses riwayat kesehatan pasien secara real-time, tanpa perlu bergantung pada dokumen fisik atau sistem yang terpisah. Sistem ini tidak hanya meningkatkan kecepatan layanan, tetapi juga mengurangi risiko kesalahan medis akibat informasi yang tidak lengkap. 

Estonia E-Health dibangun sebagai sistem informasi terintegrasi yang menggabungkan berbagai komponen penting, seperti basis data nasional, keamanan informasi berbasis enkripsi, serta mekanisme audit yang transparan. Pasien memiliki kontrol terhadap siapa saja yang dapat mengakses data kesehatannya, sehingga aspek privasi tetap terjaga. 

Selain itu, sistem ini juga mendukung pengambilan keputusan klinis dengan lebih baik. Dokter dapat melihat pola penyakit, riwayat pengobatan, serta rekomendasi berbasis data sebelumnya. Bagi pemerintah, sistem ini menjadi alat strategis untuk perencanaan kebijakan kesehatan, monitoring epidemi, dan alokasi sumber daya medis secara lebih akurat. 

Melihat keberhasilan Estonia e-Health, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengadopsi pendekatan serupa melalui penguatan sistem informasi kesehatan nasional. Dengan jumlah penduduk yang besar dan sebaran geografis yang luas, Indonesia membutuhkan sistem yang mampu mengintegrasikan data kesehatan lintas fasilitas dan wilayah. 

Implementasi sistem informasi kesehatan terintegrasi di Indonesia dapat melibatkan berbagai pihak, seperti Kementerian Kesehatan, BPJS Kesehatan, rumah sakit, puskesmas, serta penyedia layanan kesehatan swasta. Dengan integrasi data rekam medis, hasil laboratorium, dan riwayat pengobatan, tenaga medis dapat memberikan layanan yang lebih cepat, tepat, dan personal kepada pasien. 

Sistem informasi kesehatan yang terintegrasi memungkinkan masyarakat untuk mendapatkan layanan yang lebih efisien tanpa harus mengulang proses administrasi di setiap fasilitas kesehatan. Di sisi lain, tenaga medis dapat fokus pada aspek klinis tanpa terbebani proses administratif yang berulang. 

Dari perspektif nasional, sistem ini dapat meningkatkan efisiensi anggaran kesehatan, memperkuat respons terhadap wabah penyakit, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data di tingkat kebijakan. Dalam jangka panjang, sistem informasi kesehatan yang prediktif dan terintegrasi juga dapat membantu Indonesia membangun layanan kesehatan yang lebih tangguh dan berkelanjutan. 

Belajar dari Estonia e-Health, jelas bahwa sistem informasi bukan sekadar alat pendukung administrasi, tetapi fondasi utama dalam transformasi layanan publik. Dengan pendekatan yang tepat, Indonesia dapat memanfaatkan sistem informasi terintegrasi untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan, mempercepat pengambilan keputusan medis, dan memperkuat ketahanan sistem kesehatan nasional. Tantangan tentu ada, terutama pada aspek integrasi data dan tata kelola, namun peluang yang ditawarkan jauh lebih besar untuk diabaikan. 

 Referensi: e-Estonia. Estonian e-Health Records: Smart, Secure, and Patient-Centric. Diambil dari https://e-estonia.com/solutions/e-health-2/e-health-records/