Dalam mengembangkan suatu software, tim project harus dapat memilih database yang nantinya dapat mempengaruhi performa dan efisiensi suatu project. Pada dasarnya terdapat dua pendekatan utama yang sering digunakan dalam pemilihan database yaitu Structured Query Language (SQL) dan Not Only SQL (NoSQL). Keduanya memiliki keuntungan dan kekurangannya masing masing sehingga pemilihannya harus disesuaikan dengan kebutuhan project. 

SQL merupakan database relasional yang pada dasarnya menggunakan tabel dengan baris dan kolom. Database tersebut lebih cenderung digunakan ketika data yang ada bersifat terstruktur, konsisten serta membutuhkan relasi antar tabel. Selain itu, SQL juga dapat mendukung adanya transaksi yang kompleks seperti aplikasi keuangan, perbankan dan sistem yang menuntut keakuratan data yang tinggi. Sementara itu, Database NoSQL lebih bersifat fleksibel dan dapat dirancang untuk menangani data yang tidak terstruktur atau semi terstruktur seperti dokumen JSON, key-value dan graf. Database NoSQL juga lebih unggul dalam hal skalabilitas horizontal dan performa tinggi untuk data besar yang terus berkembang dan biasanya digunakan dalam aplikasi yang menangani big data dan real-time analysis.  

Dalam memilih database dalam suatu project, penting bagi suatu tim untuk memperhatikan beberapa hal berikut: 

  • Memahami struktur dan jenis data yang akan dikelola 

Dalam mengembangkan suatu project, tim harus memahami terlebih dahulu jenis data yang akan disimpan. Jika data yang digunakan bersifat terstruktur dan memiliki relation yang kompleks, tim dapat mempertimbangkan untuk menggunakan SQL. Namun, jika data tersebut bersifat dinamis, tidak terstruktur dan dapat terus berkembang seperti data sensor atau media sosial, maka tim dapat memilih NoSQL. Kesalahan umum yang dapat terjadi adalah ketika tim memilih NoSQL untuk data yang sebenarnya lebih cocok dikelola secara relasional. Hal ini dapat berpotensi untuk menyebabkan adanya kompleksitas dalam query dan integritas data. 

  • Skala dan performa sistem 

Jika dalam proyek tersebut membutuhkan volume data yang sangat besar dan skalabilitas yang horizontal, NoSQL dapat menjadi pilihan database. NoSQL juga mengutamakan ketersediaan dan skalabilitas dengan prinsip BASE yang cocok jika memiliki software yang realtime dan membutuhkan big data. Selain itu, banyak juga beberapa sistem SQL yang saat ini juga mendukung adanya skalabilitas yang tinggi. SQL menggunakan prinsip ACID yang juga menjamin adanya konsistensi data terutama bagi aplikasi yang membutuhkan tingkat akurasi yang tinggi. 

  • Kompleksitas dari query dan analisis data 

SQL memiliki kemampuan dalam menangani beberapa operation yang cukup kompleks sehingga dapat dipertimbangkan jika aplikasi yang dikembangkan membutuhkan pelaporan dan analisis yang dalam. Sementara itu, NoSQL memiliki keterbatasan dalam query yang kompleks meskipun cepat dalam operasi yang sederhana.  

  • Biaya implementasi dan pemeliharaan sistem 

Setiap jenis database memiliki range biaya yang berbeda beda tergantung dari sisi infrastruktur, lisensi dan pemeliharaannya. SQL biasanya memiliki biaya lisensi yang lebih tinggi apalagi jika menggunakan versi enterprise. Sedangkan, NoSQL memiliki open-source yang dapat diakses oleh tim namun membutuhkan adanya sumber daya tambahan untuk mengkonfigurasi dan memonitor databasenya. 

Dalam memilih suatu database untuk project, tim dapat memilih database yang tepat sesuai dengan kebutuhan proyek bukan trend teknologi. Dengan memahami kebutuhan proyek secara keseluruhan serta mempertimbangkan struktur data, skalabilitas dan biaya, hal ini akan mengarahkan tim untuk mengambil keputusan pemilihan database yang lebih tepat dan mendukung keberhasilan proyek. 

References :