Dehumanization of Work through Data
Dehumanization of work through data merujuk pada kondisi ketika aktivitas kerja manusia direduksi menjadi sekumpulan angka, metrik, dan indikator kinerja dalam sistem digital. Dalam organisasi modern, data digunakan untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan transparansi. Namun, ketika data menjadi satu-satunya dasar penilaian, aspek manusia seperti emosi, kreativitas, konteks sosial, dan kondisi psikologis sering kali terpinggirkan.
Transformasi digital mendorong organisasi untuk mengukur hampir seluruh aktivitas kerja mulai dari jam kerja, jumlah tugas yang diselesaikan, kecepatan respons, hingga performa harian yang ditampilkan dalam dashboard real-time. Akibatnya, pekerja tidak lagi dipandang sebagai individu dengan kompleksitas manusiawi, melainkan sebagai entitas data yang harus memenuhi target numerik tertentu.Untuk memahami bagaimana data berkontribusi pada dehumanisasi kerja, berikut beberapa bentuk utama yang sering muncul dalam organisasi digital:
- Work as Numbers
Pada tahap ini, pekerjaan direpresentasikan sepenuhnya dalam bentuk angka dan metrik. Produktivitas diukur melalui KPI, skor performa, dan ranking. Nilai kerja seseorang ditentukan oleh seberapa baik mereka memenuhi indikator kuantitatif, bukan kualitas kontribusi secara menyeluruh. Kondisi ini membuat aspek-aspek penting seperti kerja kolaboratif, empati, dan pembelajaran jangka panjang sulit diakui karena tidak mudah diukur oleh sistem.
- Continuous Digital Monitoring
Teknologi memungkinkan pemantauan kerja secara terus-menerus melalui sistem pelacakan aktivitas, log sistem, dan dashboard real time. Walaupun bertujuan meningkatkan akuntabilitas, praktik ini menciptakan perasaan diawasi secara konstan. Pekerja merasa harus selalu “terlihat produktif” di mata sistem, yang dapat memicu stres, kecemasan, dan menurunnya rasa otonomi dalam bekerja.
- Algorithmic Evaluation
Penilaian kinerja semakin banyak dilakukan oleh algoritma, bukan oleh interaksi manusia. Sistem otomatis menentukan siapa yang dianggap berkinerja baik, siapa yang perlu ditegur, atau bahkan siapa yang berisiko kehilangan pekerjaan. Dalam proses ini, konteks personal seperti beban kerja, kondisi mental, atau situasi khusus sering tidak diperhitungkan, sehingga keputusan terasa kaku dan tidak manusiawi.
- Loss of Professional Judgment
Ketika keputusan organisasi terlalu bergantung pada data, penilaian profesional dan intuisi manusia dianggap sebagai potensi kesalahan. Manajer dan pekerja cenderung mengikuti apa yang ditampilkan sistem, meskipun mereka menyadari adanya ketidaksesuaian dengan kondisi nyata. Hal ini mengikis kepercayaan terhadap pengalaman manusia dan mengurangi ruang refleksi kritis dalam pengambilan keputusan.
- Normalization of Dehumanized Work
Pada tahap ini, kondisi kerja yang berbasis data ekstrem dianggap sebagai hal yang normal. Target yang tidak realistis, pemantauan ketat, dan tekanan berbasis metrik diterima sebagai bagian dari “budaya digital”. Pekerja menyesuaikan diri dengan sistem, bukan sistem yang menyesuaikan dengan manusia, sehingga dehumanisasi menjadi sesuatu yang tidak lagi dipertanyakan.
Kesimpulan
Penggunaan data dalam dunia kerja tidak dapat dihindari dan memiliki banyak manfaat strategis. Namun, ketika data digunakan tanpa mempertimbangkan aspek manusia, kerja berisiko kehilangan makna dan nilai kemanusiaannya. Dehumanization of work through data menunjukkan bahwa transformasi digital bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga persoalan etika, relasi kuasa, dan budaya organisasi. Oleh karena itu, organisasi perlu mengembangkan pendekatan human-centered data, di mana data digunakan sebagai alat bantu pengambilan keputusan, bukan sebagai pengganti pemahaman manusia terhadap realitas kerja yang kompleks.