Apa Itu Dark Patterns dalam UX? 

Dark patterns adalah teknik desain antarmuka yang secara sengaja memanipulasi perilaku pengguna agar mengambil tindakan tertentu yang menguntungkan bisnis, tetapi merugikan pengguna. Berbeda dengan UX yang berfokus pada kemudahan dan kejelasan, dark patterns mengeksploitasi psikologi manusia, keterbatasan atensi, dan bias kognitif. 

Contohnya: 

  • Tombol “Setuju” yang sangat menonjol, sementara opsi “Tolak” disembunyikan 
  • Proses unsubscribe yang dibuat berbelit-belit 
  • Notifikasi yang memicu rasa takut atau urgensi palsu 

Jenis-Jenis Dark Patterns yang Paling Sering Ditemui 

  • Confirmshaming

Pengguna dibuat merasa bersalah atau bodoh jika memilih opsi tertentu. 

Contoh: 

“Tidak, saya tidak mau meningkatkan produktivitas saya” 

Dampak: menekan keputusan emosional, bukan rasional. 

  • Forced Continuity

Pengguna dipaksa berlangganan setelah masa trial tanpa pemberitahuan yang jelas. Sering terjadi pada aplikasi streaming atau SaaS. 

Dampak: kehilangan kepercayaan pengguna dalam jangka panjang. 

  • Hidden Costs

Biaya tambahan baru muncul di langkah terakhir checkout. Pengguna sudah “terlanjur” sehingga cenderung tetap melanjutkan.

Dampak: keputusan tidak lagi berdasarkan informasi lengkap. 

  • Roach Motel

Proses masuk atau mendaftar sangat mudah, tetapi keluar atau menghapus akun sangat sulit. 

Dampak: menciptakan lock-in yang tidak etis. 

  • Interface Interference

Elemen UI dibuat membingungkan atau menyesatkan, seperti: 

  • Checkbox default yang menyetujui data sharing 
  • Visual hierarchy yang menyamarkan opsi penting 

Mengapa Dark Patterns Terlihat “Efektif” bagi Bisnis? 

Secara jangka pendek, dark patterns memang dapat: 

  • Meningkatkan conversion rate 
  • Mengurangi churn secara artifisial 
  • Mempercepat keputusan pengguna 

Namun, ini adalah efisiensi palsu. Dampak jangka panjangnya: 

  • Penurunan trust dan loyalitas 
  • Meningkatnya churn tersembunyi 
  • Risiko reputasi dan boikot pengguna 

Implikasi Etika dalam Desain UX 

Dark patterns menimbulkan pertanyaan besar: 

  • Apakah pengguna benar-benar memberi consent? 
  • Apakah keputusan mereka dibuat secara sadar? 
  • Siapa yang bertanggung jawab: desainer, PM, atau manajemen? 

Desain bukan hanya soal estetika dan usability, tetapi juga tanggung jawab moral karena memengaruhi perilaku jutaan orang. 

Dark Patternsvs Persuasion Design 

Tidak semua desain persuasif adalah dark patterns. Perbedaannya terletak pada niat dan transparansi. 

Persuasion Design  Dark Patterns 
Transparan  Menyembunyikan niat 
Memberi pilihan adil  Mengarahkan secara manipulatif 
Menghormati pengguna  Mengeksploitasi kelemahan pengguna 

Regulasi dan Konsekuensi Hukum 

Praktik dark patterns mulai menjadi perhatian regulator global: 

  • GDPR (Eropa): melarang consent yang tidak eksplisit dan jelas 
  • California Consumer Privacy Act (CCPA): menentang desain yang memanipulasi persetujuan data 
  • Digital Services Act (EU): secara eksplisit menyebut dark patterns sebagai praktik terlarang 

Artinya, UX manipulatif kini bukan hanya isu etika, tetapi juga risiko hukum. 

Peran Desainer dan Product Team 

Desainer dan tim produk memiliki peran krusial untuk: 

  • Menolak requirement yang manipulatif 
  • Mengedukasi stakeholder soal dampak jangka panjang 
  • Mendesain sistem yang memberi agency pada pengguna 

UX yang baik bukan tentang “mengalahkan pengguna”, tetapi membangun hubungan yang saling percaya. 

Referensi 

  1. Brignull, H. (2010). Dark Patterns. 
  2. Mathur, A. et al. (2019). Dark Patterns at Scale: Findings from a Crawl of 11K Shopping Websites. ACM CHI Conference. 
  3. Gray, C. M., Kou, Y., Battles, B., Hoggatt, J., & Toombs, A. (2018). The Dark (Patterns) Side of UX Design. ACM. 
  4. European Commission. Digital Services Act (DSA). 
  5. Norwegian Consumer Council. (2018). Deceived by Design. 
  6. GDPR Article 7 – Conditions for Consent.