Seiring dengan perkembangan teknologi-teknologi terkini seperti Artificial Intelligence (AI), machine learning, dan automation telah mendorong Sistem Informasi ke arah yang semakin cerdas dan mandiri. Banyak proses yang sebelumnya membutuhkan campur tangan manusia, namun kini dapat dijalankan secara otomatis, mulai dari analisis data, rekomendasi keputusan, hingga eksekusi tindakan tertentu. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: “apakah sistem informasi suatu saat dapat berjalan sepenuhnya otomatis tanpa peran manusia? 

Namun begitu, ternyata peran manusia masih dibutuhkan lho dalam proses kerja sistem informasi organisasi! Yuk kita telaah alasannya! 

Human-in-the-loop atau HITL adalah pendekatan dimana manusia tetap dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan atau pengawasan sistem otomatis, terutama pada tahap-tahap kritis. Dalam konteks Sistem Informasi, ini berarti sistem dapat: 

  • mengolah data, 
  • menghasilkan prediksi atau rekomendasi, 
  • bahkan mengeksekusi tindakan, 

Namun keputusan akhir, validasi, atau intervensi tetap berada di tangan manusia. Pendekatan ini menempatkan teknologi sebagai decision support, bukan decision maker absolut. 

Walaupun menjalankan proses kerja bisnis/organisasi secara otomatis dengan bantuan teknologi itu terdengar sangat optimal, namun ada beberapa kekurangan yang menjadi alasan diperlukannya HITL. 

  • Konteks bisnis yang tidak selalu bisa dipahami sistem: karena sistem belajar dari data historis dan pola yang teridentifikasi, namun masih memerlukan konteks non-teknis dalam pengambilan keputusan suatu bisnis. 
  • Risiko bias dan kesalahan sistem: Sistem otomatis sangat bergantung pada kualitas data. Jika data mengandung bias atau tidak representatif, maka hasil yang dihasilkan sistem juga akan bias. 

Peran dari Human-In-The-Loop dari sebuah organisasi terhadap strategi antara lain: 

  • Validasi dan Kontrol Keputusan: Sistem otomatis sangat bergantung pada kualitas data. Jika data mengandung bias atau tidak representatif, maka hasil yang dihasilkan sistem juga akan bias. 
  • Menjaga etika dan nilai organisasi: Keputusan bisnis tidak hanya soal efisiensi, tetapi juga nilai dan etika. Human-in-the-loop memastikan bahwa sejalan dengan visi misi perusahaan dan tidak melanggar norma/peraturan. 
  • Improvement pada Sistem: Interaksi manusia dengan sistem memungkinkan feedback loop. Koreksi dan masukan dari manusia dapat digunakan untuk meningkatkan model. 

Lalu, bagaimana contoh penerapan HITL? 

  • Decision Support System (DSS): sistem memberi rekomendasi, manajer menentukan keputusan akhir. 
  • Sistem Kredit Perbankan: AI menilai risiko, analis kredit melakukan review akhir. 
  • Sistem Kesehatan: AI membantu diagnosis, dokter tetap memutuskan tindakan medis. 
  • Supply Chain Management: sistem memprediksi permintaan, planner memvalidasi berdasarkan kondisi lapangan. 

Di era AI dan automation, Sistem Informasi memang semakin cerdas dan efisien. Namun, otomasi penuh bukanlah tujuan akhir. Pendekatan human-in-the-loop memastikan bahwa teknologi tetap berada dalam kendali manusia, bukan sebaliknya. 

Sistem Informasi yang ideal bukan sistem yang sepenuhnya otomatis, tetapi sistem yang mampu berkolaborasi dengan manusia dimana menggabungkan kecepatan dan ketepatan teknologi dengan kebijaksanaan, etika, dan konteks manusia.