Perkembangan industri teknologi informasi yang pesat di era digital membuka banyak peluang karier bagi lulusan Sistem Informasi. Namun, di balik dinamika pertumbuhan ini terdapat fenomena budaya kerja ekstrem yang dikenal dengan istilah “996” yaitu bekerja dari pukul 9 pagi hingga 9 malam, enam hari dalam seminggu yang mencerminkan pola kerja hingga 72 jam per minggu. Istilah ini menjadi simbol beban kerja ekstrem di sejumlah perusahaan teknologi di Tiongkok.  

Asal dan Inti Fenomena 996 

Budaya 996 mulai dikenal luas sejak akhir 2010-an di kalangan perusahaan teknologi Tiongkok sebagai simbol etos kerja yang agresif. Konsep ini tidak tertulis dalam regulasi ketenagakerjaan resmi Tiongkok, dan praktisi buruh maupun akademisi menilai bahwa sistem kerja semacam ini melanggar aturan jam kerja standar dan potensi kesejahteraan pekerja 

Reaksi atas fenomena ini memuncak melalui kampanye digital “996.ICU”, sebuah proyek protes yang diluncurkan di platform GitHub oleh para pengembang perangkat lunak, yang menjadi viral sebagai bentuk kritik terhadap budaya kerja berlebih. Nama “ICU” merujuk pada potensi dampak buruk kesehatan akibat jam kerja yang panjang.  

Implikasi bagi Kesehatan dan Keberlanjutan Karier 

Beberapa penelitian dan survei menunjukkan bahwa budaya kerja 996 memberikan dampak serius terhadap kesehatan mental dan fisik pekerja, termasuk kelelahan, stres berlebihan, hingga gangguan hubungan keluarga dan keseimbangan kehidupan kerja. Studi literatur mengenai dampak psikologis budaya kerja ini menunjukkan sebagian besar responden menolak sistem tersebut karena efek negatif yang signifikan terhadap kualitas hidup.  

Diskusi berita internasional juga menyoroti bahwa kritik terhadap 996 makin kuat karena dianggap sebagai bentuk overwork culture yang “tidak manusiawi”, bahkan “modern slavery” jika dipaksakan. Bahkan setelah pemerintah Tiongkok melarangnya secara resmi, praktik jam kerja panjang masih terus muncul dalam beberapa perusahaan teknologi karena tekanan kompetitif industri.  

Perkembangan Terkini: Perubahan dan Tantangan 

Dalam beberapa tahun terakhir, ada tanda-tanda perubahan budaya kerja di Tiongkok. Beberapa perusahaan mulai memberlakukan jam kerja yang lebih manusiawi dan mendorong karyawan untuk pulang lebih awal, sebagai bentuk perhatian terhadap work-life balance. Namun, para analis melihat bahwa perubahan ini terkadang lebih didorong oleh tekanan eksternal, termasuk regulasi Uni Eropa yang memperhatikan praktik ketenagakerjaan daripada perubahan internal di industri.

Relevansi untuk Mahasiswa Sistem Informasi 

Bagi mahasiswa Sistem Informasi, fenomena 996 menyentuh beberapa aspek penting:

  • Ekspektasi Dunia Kerja vs Kenyataan Praktik Industri 

Banyak perusahaan teknologi menekankan dedikasi tinggi terhadap proyek dan target. Namun, mahasiswa perlu memahami bahwa jam kerja panjang tidak otomatis menjamin produktivitas atau kualitas hidup yang baik. 

  • Etika dan Kesejahteraan Pekerja 

Sebagai calon profesional yang akan bekerja dalam tim teknologi, mahasiswa perlu memahami pentingnya batas kerja, manajemen waktu, dan burnout prevention sebagai bagian dari etika kerja yang sehat. Sistem 996 menimbulkan pertanyaan penting tentang bagaimana struktur kerja seharusnya dirancang untuk keberlanjutan jangka panjang. 

  • Regulasi dan Hak Pekerja 

Mengetahui bahwa sistem seperti 996 berpotensi bertentangan dengan peraturan ketenagakerjaan membantu calon profesional memahami pentingnya pemahaman hukum dan kesejahteraan karyawan dalam perancangan organisasi TI. 

  • Budaya Perusahaan dan Produktivitas Sistem 

Mahasiswa Sistem Informasi juga akan menjadi bagian dari enterprise architectureproject management, dan human-centered design. Mereka harus mempertimbangkan bahwa produktivitas suatu organisasi ditopang oleh sistem kerja yang efektif bahkan tanpa jam kerja ekstrem. 

Kesimpulan 

Budaya kerja 996 adalah manifestasi tekanan kompetitif di sektor teknologi yang memicu perdebatan luas mengenai etika kerja, kesejahteraan pekerja, dan efektivitas produktivitas. Bagi mahasiswa Sistem Informasi, memahami konteks ini tidak hanya memperluas wawasan tentang dinamika industri, tetapi juga mempersiapkan diri untuk berkontribusi dalam merancang lingkungan kerja yang sehat, efisien, dan berkelanjutan. Dengan mencermati literature dan diskursus terkini dari berita maupun jurnal, mahasiswa dapat membangun perspektif yang lebih kritis dan profesional dalam menghadapi tantangan dunia kerja teknologi masa depan.