Dalam beberapa tahun terakhir, decentralized identity (DID) sering dipromosikan sebagai solusi atas masalah keamanan dan privasi pada sistem identitas digital tradisional. Dengan pendekatan berbasis blockchain dan kriptografi, DID menjanjikan kontrol penuh atas identitas berada di tangan pengguna. Namun, di balik narasi “lebih aman dan lebih privat”, terdapat berbagai risiko keamanan baru yang sering diabaikan. Digital identity bukan hanya tentang proses login, tetapi tentang bagaimana identitas dikelola, diverifikasi, dan dipulihkan dalam ekosistem yang kompleks. 

  1. Pergeseran ParadigmaDariIdentity Provider ke Self-Sovereign Identity 

Pada sistem tradisional, identitas dikelola secara terpusat oleh identity provider seperti bank, pemerintah, atau platform digital besar. Dalam decentralized identity: 

  • Tidak ada otoritas tunggal 
  • Pengguna memegang kendali penuh atas kredensial 
  • Verifikasi dilakukan melalui mekanisme kriptografi 

Perubahan ini memang mengurangi ketergantungan pada pihak ketiga, tetapi juga memindahkan tanggung jawab keamanan ke pengguna dan sistem pendukungnya. 

 

  1. Kesalahan Asumsi Umum tentang Keamanan Decentralized Identity
  • Terdesentralisasi Berarti Lebih Aman

Desentralisasi menghilangkan single point of failure, tetapi juga menciptakan banyak titik serangan baru. Setiap wallet, perangkat, dan aplikasi verifikasi menjadi bagian dari attack surface. 

  • Blockchain Mengamankan Segalanya

Blockchain hanya mengamankan: 

  • Integritas data 
  • Riwayat transaksi 

Blockchain tidak melindungi endpoint, seperti: 

  • Perangkat pengguna 
  • Aplikasi wallet 
  • Browser atau sistem operasi 
  • Pengguna Selalu Bisa Menjaga Private Key dengan Baik

Fakta di lapangan menunjukkan banyak pengguna: 

  • Menyimpan key tanpa enkripsi 
  • Kehilangan akses 
  • Terjebak phishing 

Dalam sistem DID, kehilangan private key sering berarti kehilangan identitas secara permanen. 

 

      3.Attack Surface Baru dalam Sistem Decentralized Identity

Wallet sebagai Target Utama Serangan

Wallet digital menjadi pusat identitas pengguna. Jika wallet diretas: 

  • Seluruh kredensial dapat disalahgunakan 
  • Tidak ada mekanisme reset seperti “forgot password” 

Social Engineering dan Phishing

DID tidak kebal terhadap manipulasi manusia. Penyerang dapat: 

  • Menipu pengguna untuk menandatangani transaksi berbahaya 
  • Memalsukan antarmuka verifikasi 
  • Mengeksploitasi kurangnya literasi kriptografi 

Credential Issuer dan Verifier yang Lemah

Walaupun identitas terdesentralisasi, issuer dan verifier tetap menjadi entitas terpusat. Jika salah satu pihak ini dikompromikan, kepercayaan sistem ikut runtuh. 

 

  1. Risiko Privasi yang Sering Diabaikan

Korelasi Data di Blockchain

Walaupun data identitas tidak disimpan langsung di blockchain, metadata transaksi dapat: 

  • Dilacak 
  • Dikorelasikan 
  • Mengungkap pola aktivitas pengguna 

Over-SharingKredensial 

Tanpa desain yang tepat, pengguna bisa secara tidak sadar: 

  • Membagikan terlalu banyak atribut identitas 
  • Mengungkap informasi sensitif yang tidak diperlukan 

 

  1. Tantangan Pemulihan Identitas (Identity Recovery)

Salah satu masalah terbesar DID adalah pemulihan akses: 

  • Tidak ada otoritas pusat untuk membantu 
  • Mekanisme recovery sering kompleks dan rawan disalahgunakan 

Beberapa solusi seperti social recovery atau multi-signature justru menambah kompleksitas dan potensi celah keamanan baru. 

 

  1. Mengapa Digital Identity Tidak Bisa Berdiri Sendiri

Identitas digital bukan hanya masalah teknologi, tetapi juga: 

  • Hukum dan regulasi 
  • Proses bisnis 
  • Edukasi pengguna 

Tanpa integrasi dengan governance yang jelas, DID berisiko menjadi solusi teknis yang sulit diterapkan secara luas dan aman. 

 

  1. Prinsip Keamanan yang Seharusnya Diterapkan dalam Decentralized Identity

Defense in Depth

Menggabungkan kriptografi dengan: 

  • Proteksi perangkat 
  • Monitoring perilaku 
  • Deteksi anomali 

Human-Centered Security

Desain sistem harus mempertimbangkan: 

  • Kesalahan manusia 
  • Kemudahan penggunaan 
  • Mekanisme edukasi pengguna 

Selective Disclosure dan Zero-Knowledge Proof

Mengurangi eksposur data dengan hanya membagikan informasi yang benar-benar diperlukan. 

 

Kesimpulan 

Decentralized identity bukan sekadar pengganti sistem login tradisional. Ia adalah perubahan mendasar dalam cara identitas digital dikelola, dengan implikasi keamanan yang jauh lebih kompleks. Tanpa pemahaman menyeluruh tentang risiko, attack surface baru, dan keterbatasan pengguna, implementasi DID justru dapat menciptakan ilusi keamanan. Pendekatan yang realistis, berlapis, dan berorientasi pada manusia adalah kunci agar identitas terdesentralisasi benar-benar aman dan dapat dipercaya. 

 

Referensi 

  • W3C (2022). Decentralized Identifiers (DIDs) v1.0. 
  • Allen, C. (2016). The Path to Self-Sovereign Identity. 
  • European Union Agency for Cybersecurity (ENISA). Decentralised Digital Identity and Cybersecurity. 
  • Bonneau, J., et al. (2015). SoK: Research Perspectives and Challenges for Bitcoin and Cryptocurrencies. IEEE. 
  • Zyskind, G., Nathan, O., & Pentland, A. (2015). Decentralizing Privacy: Using Blockchain to Protect Personal Data. 
  • NIST (2020). Digital Identity Guidelines (SP 800-63).