Extended Reality (XR) adalah istilah yang mencakup Virtual Reality (VR), Augmented Reality (AR), dan Mixed Reality (MR), yang semuanya bertujuan memperluas pengalaman pengguna dengan menggabungkan dunia fisik dan digital. Dalam konteks sistem informasi, XR menghadirkan paradigma baru dalam user interface dan user experience: pengguna tidak lagi sekadar membaca data di layar dua dimensi, tetapi dapat “mengalami” informasi melalui visualisasi 3D, simulasi imersif, serta interaksi ruang yang lebih intuitif. 

Salah satu kontribusi terbesar XR terhadap sistem informasi adalah kemampuan visualisasi dan pemahaman sistem yang kompleks. Pada industri manufaktur, misalnya, XR dapat digunakan untuk menampilkan instruksi perakitan langsung di atas objek nyata (AR), sehingga teknisi dapat bekerja lebih akurat dan cepat. Dalam pendidikan, XR memungkinkan simulasi laboratorium virtual untuk eksperimen yang mahal atau berisiko. Dalam layanan kesehatan, XR dapat mendukung pelatihan bedah atau visualisasi anatomi secara detail. Semua contoh ini menunjukkan bahwa XR mengubah sistem informasi dari sekadar “sistem pencatat” menjadi “sistem pengalaman” yang meningkatkan pembelajaran dan performa kerja. 

Dari sisi desain sistem informasi, implementasi XR memerlukan pendekatan yang lebih holistik. Tidak cukup hanya membangun aplikasi XR, tetapi juga memastikan integrasi data, keamanan, serta kesesuaian dengan proses bisnis. Misalnya, jika AR digunakan untuk perawatan mesin, sistem harus terhubung dengan database maintenance, histori kerusakan, jadwal inspeksi, dan inventori spare part. Selain itu, karena XR sering memproses data visual, lokasi, bahkan biometrik, maka isu privasi dan keamanan menjadi lebih sensitif dibanding aplikasi biasa. 

Tantangan XR juga mencakup aspek adopsi pengguna dan kesiapan organisasi. Tidak semua pengguna nyaman menggunakan headset VR atau AR dalam waktu lama, dan tidak semua proses bisnis membutuhkan XR. Oleh karena itu, pengembangan XR dalam sistem informasi harus berbasis kebutuhan nyata (use case) dan evaluasi manfaat (value) yang jelas. Organisasi perlu menilai apakah XR meningkatkan efektivitas pembelajaran, mengurangi kesalahan, mempercepat onboarding, atau meningkatkan kualitas layanan bukan hanya karena XR terlihat “keren”. 

Seiring perkembangan perangkat XR yang lebih ringan, lebih murah, dan lebih mudah digunakan, XR berpotensi menjadi kanal utama interaksi pada sistem informasi tertentu, terutama yang membutuhkan pelatihan, simulasi, dan visualisasi kompleks. Ke depannya, XR juga dapat dipadukan dengan AI untuk menciptakan pengalaman cerdas, misalnya asisten virtual yang memberi arahan real-time dalam lingkungan kerja. Dengan demikian, XR bukan sekadar tren, melainkan teknologi yang dapat memperkaya cara sistem informasi mendukung manusia dalam bekerja dan belajar.