Keamanan untuk AR/VR dan Lingkungan Metaverse
Seiring dengan semakin populernya Augmented Reality (AR), Virtual Reality (VR), dan Metaverse di berbagai industri saat ini—mulai dari dunia aplikasi permainan (game) dan hiburan hingga dunia pendidikan serta perawatan kesehatan—tantangan keamanannya pun tumbuh secara eksponensial. Lingkungan imersif ini bergantung pada pertukaran data real-time, input biometrik, dan interaksi pengguna yang kompleks, sehingga menjadi lahan subur bagi ancaman siber baru dimasa datang.
Salah satu masalah utama dalam lingkungan yang dimaksud diatas adalah pemalsuan identitas. Pengguna di metaverse berinteraksi melalui avatar, dan pelaku kejahatan dapat membajak atau mereplikasi avatar ini untuk menyamar sebagai orang lain, yang menyebabkan serangan rekayasa sosial atau penyebaran informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Serangan seperti deepfake yang juga menggunakan avatar virtual sudah sering muncul di berbagai platform AR/VR sosial saat ini.
Selain hal diatas adalah privasi data yang menjadi masalah penting lainnya dimana perangkat AR/VR yang mengumpulkan sejumlah besar data sensitif, termasuk pengenal biometrik seperti gerakan mata, suara, ekspresi wajah, dan bahkan pola gelombang otak dalam sistem yang canggih. Tanpa adanya enkripsi yang diterapkan dan tata kelola data yang ketat, maka dipastikan bahwa informasi tersebut rentan terhadap kebocoran dan penyalahgunaan yang dilakukan.
Kekhawatiran lain yang meningkat adalah pencurian properti virtual, dimana di dunia metaverse, aset digital seperti NFT, avatar, dan real estat virtual memiliki nilai ekonomi yang sangat nyata. Jika aset tersebut tidak disimpan dan ditransfer dengan aman—menggunakan mekanisme seperti blockchain dan kontrak pintar (smart contract)—maka aset tersebut akan menjadi sasaran peretasan dan penipuan yang dilakukan oleh pihak pihak yang tidak bertanggungjawab.
Lebih jauh lagi adalah pada aplikasi AR/VR yang melingkupi atau melapisi konten digital di dunia fisik, dimana hal itu akan menghadirkan risiko keamanan fisik jika kode berbahaya memanipulasi lingkungannya. Misalnya, sistem navigasi yang ada pada AR/VR yang diretas akan berpotensi mengarahkan para penggunanya kearah yang sangat berbahaya.
Untuk mengatasi berbagai tantangan diatas, maka pengembang dan penyedia platform dimaksud harus mengadopsi prinsip privasi berdasarkan desain, menegakkan mekanisme verifikasi identitas yang kuat, dan mengamankan protokol komunikasi, serta menyediakan moderasi konten secara real-time. Penggunaan identitas yang terdesentralisasi (DID), manajemen aset yang didukung blockchain, dan deteksi anomali pada teknologi informasi berbasis Ai akan menjadi sangat penting bagi para penggunanya dikemudian hari.
Sebagai kesimpulan, seiring perkembangan AR/VR dan lingkungan Metaverse akan semakin terintegrasi ke dalam kehidupan digital yang ada saat ini. Dengan membangun kerangka kerja keamanan (security framework) yang kuat sangat penting untuk dilakukan, agar kepercayaan, privasi, dan keamanan pengguna di lingkungan baru ini dapat dipastikan sesuai dengan prinsip prinsip maupun standar keamanan sistem informasi.