Saat ini era digital semakin berkembang menjadi lebih dan lebih lagi, tentunya dunia ini sudah tidak asing lagi dengan handphone ataupun smartphone atau juga mobile phone. Pastinya setiap orang memiliki handphone-nya sendiri dan pasti tidak akan lepas dari tangannya. Namun keadaan akan menjadi seketika buruk karena adanya notifikasi “baterai lemah” ketika sedang menjalankan aktivitas menggunakan handphone dan tentunya kita akan sulit untuk mencari tempat untuk mengisi baterai di tempat umum. Untungnya saat ini terdapat sebuah bisnis yang mungkin akan mengatasi masalah “low-batt” ini yaitu Recharge. ReCharge menawarkan layanan sewa power bank dan tentunya ReCharge berada di tempat-tempat yang ramai, seperti pusat berbelanja/mall, stasiun kereta dan lainnya. 

Dibalik kemudahan yang kita rasakan, ada kompleksitas operasional yang luar biasa. Kunci sukses bisnis ini terletak pada bagaimana mereka mengelola proses dalam mereka: mulai dari proses mengisi ulang power bank hingga menyewakannya lagi. Artikel ini akan mengajak Anda menyelamiperjalanan Recharge, sebuah nama yang mungkin sudah tak asing lagi, dan bagaimana mereka berhasil merombak total proses bisnisnya demi efisiensi yang bikin kaget dan kepuasan pelanggan yang makin melambung. 

ReCharge sudah berdiri sejak Maret 2018 dari gagasan PT Jalan Terus Saja. Recharge juga bukan sekedar bisnis baru, mereka merupakan pionir dari sewa power bank berbasis aplikasi di Indonesia. Mereka mengenalkan kepada kita semua sebuah inovasi yang menyelamatkan masalah “low-batt” ini. ReCharge Station juga sudah menyebar kemana-mana mulai dari mal-mal, stasiun kereta, hingga bandara yang ada di Jabodetabek, Bandung sampai Yogyakarta. Kini sudah mencapai lebih dari 3 juta pengguna dan sudah mengelola lebih dari 115.000 power bank, namun dengan angka yang begitu tersebut mereka tidak mendapatkannya dengan mudah, mereka juga mengalami beberapa hambatan seperti banyak sekali power bank yang tidak dapat disewakan akibat charging time-nya tidak bisa terpenuhi atau baterai pada power bankmasih lemah. Lalu ada juga kesulitan untuk melacak status atau lokasi dari power bank-nya sehingga jika hilang maka akan merugikan pihak ReCharge. 

ReCharge juga terhambat karena masih melakukan semua proses secara manual sehingga mesinnya masih ketergantungan dengan karyawan mulai dari cek, angkut, charge, dan distribusi. Akibat hambatan tersebut maka sudah pasti mesinnya tidak akan selalu penuh, seperti saat pelanggan ingin menyewa sebuah power bank malah tidak ada baterai ataupun tidak tersedia power bank-nya di dalam mesin. Sebelum adanya inovasi, alur charge dan sewa power bank di ReCharge masih mengandalkan kekuatan manual, atau dengan mengandalkan karyawannya saja. Begini kira-kira gambaran sederhananya.Pelanggan mengembalikan power bank ke ReCharge Station. Lalu seorang petugas dari ReCharge akan mengecek satu per satu status baterai power bank yang baru dikembalikan. Setelah dicek semuanya, power bank dengan baterai rendah atau yang sudah tidak ada baterai dikumpulkan dan akan dibawa ke area charging sentral. Proses ini bisa memakan waktu lama, tergantung jumlah unit dan ketersediaan charger. Setelah baterainya penuh lagi, power bank ini didistribusikan kembali ke ReCharge Station yang kosong atau membutuhkan untuk diisi ulang. Barulah power bank itu siap untuk disewakan kembali kepada pelanggan berikutnya. Dengan cara-cara ini tentunya akan merepotkan untuk pihak ReCharge maupun pelanggan, apalagi banyak sekali orang yang membutuhkan power bank untuk mengisi baterai handphone-nya. 

Dengan banyaknya hambatan yang dihadapi oleh ReCharge, mereka mulai untuk melakukan inovasi dan fokus untuk mengembangkan otomatisasi dan integrasi mendalam dengan teknologi IoT (Internet of Things). ReCharge mulai untuk menggunakan Sistem Manajemen Inventaris Terintegrasi (IMIS) yang canggih dan juga dilengkapi dengan teknologi RFID (Radio-Frequency Identification) yang ditempel pada setiappower bank dan tentu saja pada ReCharge Station-nya juga. Setelah mereka menggunakan teknologi ini, mereka sudah bisa melacak setiap posisi, level baterai dan bahkan riwayat pemakaian dari power bank mereka, maka sudah pasti kejadian hilangnya power bank akan teratasi. Bahkan teknologi ini juga sudah bisa untuk mengirimkan alarm ke tim operasional jika ada power bank yang baterainya sekarat, stok di suatu station mulai menipis, dan bahkan jika ada unit yang rusak. Inovasi mereka tidak hanya dengan otomatisasi dan integrasi teknologi IoT saja, mereka juga mulai untuk mengembangkan charging station mereka menjadi sebuah smart charging station, yang artinya mereka mulai untuk mengembangkan sebuah mesin bukan hanya sebagai tempat sewa saja melainkan bisa untuk mengisi secara otomatis seluruh power bank yang sudah selesai disewa. Saat power bank selesai disewa, mesinnya akan secara otomatis untuk mengisi daya dan juga sudah dilengkapi dengan sebuah sensor yang bisa untuk mengecek mana power bank yang memiliki baterai paling rendah untuk diisi terlebih dahulu. Mereka juga sudahmeningkatkan fitur dalam aplikasi mereka, pelanggan sudah bisa mengecek ketersediaan power bank yang ada di dalam mesin dari aplikasi ReCharge saja. Pelanggan juga sudah bisa mereservasi power bank-nya terlebih dahulu sebelum sampai di ReCharge Station-nya, jadi tidak perlu lagi untuk menunggu lama-lama dan juga pelanggan bisa mengecek ketersediaan tiap station-nya. 

Dengan adanya transformasi yang diterapkan oleh ReCharge, muncullah banyak dampak positif. Dampak positif dari transformasi ReCharge ini bisa dirasakan oleh pelanggan dan bahkan pihak ReCharge-nya sendiri, seperti pelanggan tidak perlu untuk kecewa akibat tidak terisinya daya power bank, karena ReCharge sudah menggunakan mesin pintar yang secara otomatis bisa mengisi daya power bank dan juga dengan adanya aplikasi yang semakin banyak fiturnya, pelanggan bisa menikmati lebih banyak layanan yang ditawarkan oleh ReCharge. Tentunya dari seluruh transformasi ini, ReCharge pasti mendapatkan keuntungan lebih besar karena mereka sudah pasti bisa mengurangi tenaga kerja dengan adanya mesin pintar tersebut dan juga semakin banyak yang menyewa power bank mereka. Kisah Recharge ini bukan cuma tentang power bank atau teknologi. Ini adalah bukti nyata bagaimana sebuah perusahaan, yang merupakan pelopor layanan sewa power bank berbasis IoT di Indonesia, tidak pernah merasa cukup dan akan terus-menerus mencari cara untuk lebih baik. Mereka tidak diam saja, tapi mereka cepat untuk merombak seluruh proses utama bisnis mereka, ibarat mengisi kembali daya mesinnya. Dengan berinvestasi pada sistem manajemen inventaris yang terintegrasi, charging station pintar di setiap stasiun, dan aplikasi pelanggan yang jauh lebih cerdas, Recharge tak hanyaberhasil mengatasi tantangan operasional. Mereka melaju jauh ke depan, meningkatkan efisiensi secara masif, dan yang paling penting, memberikan pengalaman yang jauh lebih baik bagi jutaan penggunanya. 

Singkatnya, ini contoh hebat bahwa menguasai proses bisnis dan berani inovasi teknologi itu mutlak. Itulah rahasia untuk bertahan, memimpin, dan berkembang pesat di pasar digital yang keras. Benar-benar dapat menjadi bukti bahwa adaptasi dan inovasi bisa jadi senjata ampuh untuk menghadapi semua tantangan.