Bayangkan membuat sebuah aplikasi hanya dengan menjelaskan keinginan Anda kepada AI, tanpa mengetik satu baris kode pun. Cara kerja inilah yang disebut vibe coding, istilah yang begitu viral hingga dipilih Collins English Dictionary sebagai Word of the Year 2025. Jika AI sudah mampu menulis kode, kemampuan apa yang masih perlu dimiliki manusia? Artikel ini mengulas pengertian, manfaat, risiko, dan dampaknya bagi dunia sistem informasi. 

Vibe coding adalah cara membuat perangkat lunak dengan memberi perintah kepada AI dalam bahasa sehari-hari, lalu membiarkan AI menulis kodenya. Istilah ini dilontarkan Andrej Karpathy pada awal Februari 2025. Ia bercerita bahwa dirinya berbicara ke AI lewat suara, menyetujui semua perubahan tanpa membacanya, dan menempelkan pesan galat apa adanya sampai masalahnya hilang, hingga ia sampai pada titik “forget that the code even exists”. Simon Willison menegaskan batasnya: jika kode dari AI sudah ditinjau, diuji, dan bisa dijelaskan cara kerjanya, itu bukan lagi vibe coding, melainkan pengembangan perangkat lunak biasa yang dibantu AI. 

Keunggulan utamanya adalah kecepatan dan rendahnya hambatan masuk. Menurut Willison, orang tidak perlu lagi bergelar ilmu komputer untuk mengotomatiskan pekerjaan yang membosankan. Cara ini cocok untuk prototipe, uji konsep, dan proyek pribadi berisiko rendah. Karpathy sendiri menyebutnya pas untuk proyek akhir pekan sekali pakai. Pemakaiannya pun meluas: Cloud Security Alliance (CSA) mencatat bahwa 25% startup angkatan Winter 2025 Y Combinator memiliki basis kode yang 95% atau lebih dihasilkan AI (angka ini mencakup kode AI secara umum), dan Claude Code saja menyumbang lebih dari 4% commit GitHub pada awal 2026. 

Kode yang berjalan belum tentu aman. Veracode, yang dikutip CSA, menemukan bahwa 45% sampel kode dari lebih dari 100 model AI gagal uji keamanan OWASP Top 10, dan angkanya nyaris tidak membaik pada model yang lebih baru. Dalam analisis terhadap 470 pull request, CodeRabbit mendapati perubahan yang ditulis bersama AI memuat rata-rata 10,83 masalah, dibanding 6,45 pada yang ditulis manusia (kepenulisan AI di sini ditentukan dari tanda-tanda, bukan dikonfirmasi). Peneliti Georgia Tech melacak 74 kerentanan terkonfirmasi akibat kode AI, dan 35 di antaranya muncul pada Maret 2026 saja, lebih banyak daripada seluruh 2025. 

Dampaknya nyata. Pada Mei 2025, 170 dari 1.645 aplikasi buatan platform Lovable ternyata bocor, sehingga data penggunanya bisa dibaca dan ditulis tanpa login. CSA menilai titik terlemah AI ada pada logika otorisasi, yaitu aturan tentang siapa boleh mengakses apa. AI juga kerap mengarang: sekitar 19,7% pustaka yang disarankannya ternyata tidak ada. 

Menulis kode kini makin murah, tetapi menilai benar dan amannya kode itu tidak. CSA mengingatkan bahwa organisasi bisa menumpuk utang keamanan lebih cepat daripada kemampuannya meninjau. Peneliti Georgia Tech menekankan bahwa agen AI yang membuat fitur tanpa autentikasi bukan sekadar salah ketik, melainkan cacat desain. 

Tips Memakai Vibe Coding dengan Aman: 

  • Pilih proyek yang tepat. Pakai untuk hal berisiko rendah. Untuk sistem produksi, tinjau kode AI seperti meninjau pekerjaan programmer junior, terutama bagian input dan autentikasi. 
  • Tulis instruksi yang rinci, termasuk syarat keamanannya. 
  • Pindai sebelum rilis. Jalankan alat uji keamanan dan pemeriksa dependensi, dan pastikan setiap pustaka yang disarankan AI benar-benar ada. 
  • Pegang aturan Willison: jangan memasukkan kode yang tidak bisa Anda jelaskan sendiri. 

Vibe coding membuat pembuatan perangkat lunak lebih mudah dijangkau dan jauh lebih cepat. Namun data terbaru menunjukkan bahwa kecepatan itu perlu diimbangi pemahaman, pengujian, dan tanggung jawab manusia. 

Referensi: