Ide Penerapan Artifical Intelligence untuk Optimasi Penjualan pada UMKM: OTP Parfum
Pada era modern seperti sekarang, parfum memiliki andil dalam mengekspresikan identitas diri, terutama bagi generasi muda yang ingin tampil percaya diri setiap saat. OTP Parfum merupakan salah satu toko parfum yang berlokasi di kawasan wisata Pecinan di Semarang. Berdiri sejak tahun 2016, OTP Parfum berhasil menjadi salah satu toko parfum yang sukses hingga memperoleh omset harian sebesar Rp 300 ribu hingga Rp 1 juta. Toko ini beroperasi sesuai dengan jadwal buka tempat wisata tersebut, yakni hanya tiga hari dalam seminggu, yaitu saat akhir pekan. Keberhasilan penjualan selama ini sepenuhnya bergantung pada toko fisik karena OTP Parfum belum memiliki kehadiran secara daring.
Peningkatan tren belanja secara daring dan perubahan kebiasaan konsumen juga membuktikan bahwa ketergantungan pada toko fisik saja tidaklah cukup. Menurut laporan dari L.E.K. Consulting, 96% populasi Indonesia memiliki ponsel, dengan 76% diantaranya memiliki akses terhadap internet. Lebih dari 65% populasi berada di bawah usia 44 tahun, hal ini menunjukkan perilaku belanja impulsif yang relatif lebih tinggi (Media Indonesia, 2024). Masalah tersebut menjadi tantangan bagi OTP Parfum untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan tren digital.
Namun, OTP Parfum menghadapi kesulitan dalam mengembangkan toko daring karena sebagian besar pelanggan merasa kurang puas apabila tidak bisa mencium aroma parfum secara langsung sebelum membeli. Selain itu, preferensi aroma yang sangat beragam di kalangan pelanggan membuat penyesuaian stok dan rekomendasi parfum lebih sulit dilakukan secara digital. Keterbatasan teknologi yang belum mampu menyajikan pengalaman penciuman melalui platform daring juga memperburuk keadaan, akibatnya pelanggan menjadi ragu untuk membeli karena tidak dapat merasakan aromanya secara langsung. Pada akhirnya, tingkat pengembalian produk meningkat, dan OTP Parfum kesulitan untuk merancang strategi pemasaran digital yang efektif.
Oleh karena itu, berdasarkan analisa permasalahan diatas, usulan pengembangan aplikasi yang dapat diberikana adalah menghadirkan aplikasi penjualan parfum yang dapat menjawab kebutuhan pelanggan. Aplikasi ini dapat dilengkapi dengan fitur personalisasi parfum, dimana pengguna dapat memilih aroma untuk top notes, middle notes, dan base notes sesuai preferensi mereka. Setiap aroma yang tersedia akan disertai dengan penjelasan rinci mengenai karakteristiknya, sehingga pelanggan dapat membayangkan seperti apa aroma tersebut. Selain itu aplikasi ini juga akan dilengkapi dengan fitur konsultasi berbasis teknologi Artificial Intelligence (AI) berupa Chatbot yang dapat membantu melakukan personalisasi parfum sesuai preferensi aroma yang diinginkan pelanggan. AI bisa menganalisis preferensi pelanggan (misalnya aroma favorit: floral, woody, fruity) berdasarkan riwayat pembelian atau survei singkat, misalnya Saat pelanggan sering beli parfum bernuansa vanilla, AI bisa menyarankan produk dengan kombinasi gourmand atau amber. Meski parfum tidak bisa langsung dicium online, AI bisa membuat quiz interaktif untuk menebak “signature scent” pelanggan berdasarkan gaya hidup mereka. Apakah Anda lebih suka kopi pagi atau teh sore? Apakah Anda lebih sering liburan ke pantai atau gunung? Dari jawaban tersebut, AI bisa merekomendasikan wangi parfum yang sesuai. Dengan fitur ini, diharapkan pengalaman berbelanja parfum secara daring akan tetap memenuhi ekspektasi pelanggan.
Referensi:
Apriyani, N. (2023). THE IMPACT OF SOCIAL INTERACTION IN THE DIGITAL AGE ON THE REAL WORLD. OSF.
Comments :