Tech for Good: Bangun Superpower Anti-Korupsi bersama KPK RI (Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia)

Semangat mahasiswa BINUS @Bekasi dalam mengeksplorasi peran teknologi untuk menciptakan transparansi dan memberantas korupsi di Indonesia. Kolaborasi seru antara School of Information Systems (SIS) dan HIMSISFO BINUS University untuk mewujudkan Tech for Good.
30 April 2026 – Bapak Humam Faiq dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hadir menyapa mahasiswa BINUS @Bekasi dalam workshop “Tech For Good”. Sesi ini bertujuan mengubah mindset bahwa AI (Artificial Intelligence) dan data adalah superpower nyata dalam melawan korupsi.
Membahas realitas Indeks Persepsi Korupsi (CPI) Indonesia yang masih di angka 37. Bapak Humam membedah bagaimana negara seperti Finlandia bisa memberikan pendidikan gratis berkat pengelolaan pajak yang optimal tanpa korupsi.
Mengupas tuntas Formula Korupsi dari Robert Klitgaard. Robert Klitgaard adalah seorang akademisi dalam bidang kebijakan publik, tata kelola pemerintahan, dan pemberantasan korupsi. Robert Klitgaard mengeluarkan sebuah formula yang dikemukakan untuk melakukan analisa dan diagnosa kemungkinan-kemungkinan terjadinya tindakan korupsi. Formula ini juga dapat digunakan dalam langkah pemberantasan tindak korupsi. Formula korupsi dari Robert Klitgaard: C = M + D – A. C (Corruption), M (Monopoly) yang artinya ketika satu pihak menguasai sumber daya atau layanan tanpa alternatif contohnya seperti oknum penentu sebuah izin, D (Discretion) yang artinya kekuasaan diskresi yang tidak terbatas tanpa aturan yang jelas contohnya seperti seorang Pejabat mengatur anggaran bebas, dan A (Accountability) yang artinya adanya mekanisme pengawasan, pelaporan, dan pertanggungjawaban yang mana solusinya adalah transparansi data. Di sini peserta belajar bahwa korupsi muncul saat ada Monopoli dan Diskresi tinggi tanpa adanya Akuntabilitas yang kuat.
Melalui fasilitasi BINUS @Bekasi, Bapak Humam membagikan strategi memperkuat akuntabilitas menggunakan teknologi. Salah satunya lewat portal data terbuka seperti jaga.id untuk memantau fasilitas kesehatan hingga dana desa secara real-time.
Workshop ini menyoroti pergeseran paradigma: dari metode reaktif yang mengandalkan laporan, kini beralih ke deteksi berbasis IT (Information Technology) yang proaktif, skalabel, dan real time. Teknologi memungkinkan kita mengidentifikasi anomali sebelum menjadi masalah besar.
Peserta membedah studi kasus Dana Desa yang rawan penyalahgunaan, mulai dari kegiatan fiktif hingga mark-up anggaran. Melalui teknologi, deteksi anomali pada dana publik triliunan rupiah kini dapat dieskalasi dengan lebih cepat.
Masuk ke sesi teknis, peserta belajar algoritma Machine Learning Isolation Forest untuk mendeteksi pola mencurigakan secara unsupervised. Bukti nyata bagaimana AI menjadi garda terdepan dalam mengungkap anomali.

Pada sesi Q&A, peserta memiliki pertanyaan kritis mengenai transparansi korupsi, khususnya tantangan pengawasan pada bidang Makan Bergizi Gratis (MBG). Diskusi ini membuka wawasan baru tentang pentingnya integrasi data di berbagai sektor publik.
Analisis data 2018-2021 menunjukkan tren positif penurunan kecurigaan, namun fitur ‘red flag‘ di portal JAGA.ID tetap menjadi fokus utama. Perlu standarisasi input nasional agar pengawasan semakin ketat.

“Tech for Good” menegaskan bahwa masa depan Indonesia yang bersih ada di tangan kita yang berani menggunakan teknologi untuk kebaikan. Mari kita normalisasikan gerakan anti-korupsi dan menjadi agen perubahan untuk Indonesia yang berintegritas!
Comments :