Di era transformasi digital yang bergerak sangat cepat, organisasi besar seringkali terjebak dalam kompleksitas teknologi yang mereka bangun sendiri. Ratusan aplikasi, ribuan integrasi data, dan infrastruktur yang tumpang tindih sering kali menjadi penghalang bagi inovasi. Menjawab tantangan tersebut, School of Information Systems (SIS) BINUS University kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan wawasan industri nyata melalui penyelenggaraan Hands-on Workshop SAP LeanIX.

Workshop intensif ini tidak hanya sekadar pengenalan perangkat lunak, tetapi merupakan sebuah perjalanan dari teori di ruang kelas menuju tata kelola arsitektur IT bertaraf global. Dengan menghadirkan narasumber ahli, Kak Angel dan Kak Jessica, para mahasiswa diajak untuk membedah bagaimana sebuah perusahaan besar mengelola ekosistem digitalnya secara transparan dan strategis.

Sinergi Strategis: Antara PMO dan Enterprise Architecture

Salah satu sorotan utama dalam workshop ini adalah pembahasan mengenai sinergi antara Project Management Office (PMO) dan Enterprise Architecture (EA). Selama ini, banyak yang menganggap kedua unit ini bekerja secara terpisah. Namun, melalui bimbingan Kak Angel dan Kak Jessica, mahasiswa memahami bahwa PMO adalah navigator yang menjaga standar dan target proyek, sementara EA—yang dalam hal ini menggunakan tool SAP LeanIX—adalah cetak birunya (blueprint).

Tanpa pemahaman arsitektur yang kuat, sebuah proyek yang dijalankan oleh PMO berisiko menjadi investasi yang mubazir atau bahkan merusak sistem yang sudah ada. Sinergi ini memastikan bahwa setiap langkah transformasi digital yang diambil oleh perusahaan didasarkan pada data yang akurat, bukan sekadar asumsi.

Menjadi “IT Detective”: Dari Inventory hingga Pengambilan Keputusan

Alur workshop dirancang secara sistematis untuk mengubah pola pikir mahasiswa. Pada sesi awal, mahasiswa memasuki mode “IT Detective”. Menggunakan fitur Inventory pada SAP LeanIX, mereka belajar bagaimana melakukan audit terhadap aset teknologi perusahaan. Mereka tidak hanya melihat daftar aplikasi, tetapi juga membedah kualitas data, ketergantungan antar-sistem, hingga pemilik dari aset tersebut.

Setelah menguasai aspek inventori, mahasiswa naik ke level berikutnya: Strategic Decision Making. Melalui analisis Dashboard dan pemanfaatan TIME Framework (Tolerate, Invest, Migrate, Eliminate), mahasiswa dilatih untuk mendeteksi risiko teknis. Mereka belajar menentukan aplikasi mana yang sudah masuk tahap End-of-Life dan harus segera dimigrasi, serta mana yang merupakan prioritas utama untuk dikembangkan.

Membedah Peran: PMO vs Project Manager

Poin krusial lain yang dibahas adalah klarifikasi mengenai peran PMO vs Project Manager (PM). Mahasiswa diberikan pemahaman mendalam bahwa meskipun keduanya berurusan dengan proyek, PMO memiliki tanggung jawab yang lebih luas pada level portofolio dan tata kelola perusahaan, sedangkan PM fokus pada eksekusi teknis satu proyek spesifik. Pemahaman ini sangat penting bagi lulusan SIS agar mereka memiliki spektrum karier yang lebih jelas di masa depan.

Penutup: Mencetak Calon Digital Strategists

Workshop ini ditutup dengan sesi penuh energi yang menegaskan bahwa mahasiswa BINUS University bukan sekadar pengguna teknologi, melainkan calon pemimpin transformasi digital. Dengan penguasaan tools standar industri seperti SAP LeanIX, mereka kini memiliki bekal untuk menjadi Digital Strategists yang mampu membawa perubahan nyata di dunia industri.

Melalui inisiatif seperti ini, School of Information Systems BINUS University terus memastikan bahwa setiap lulusannya siap menghadapi kompleksitas dunia kerja dengan keterampilan praktis dan visi strategis yang tajam.