Selama dua hari, sebuah ruang kelas di Kampus Anggrek berganti peran. Yang duduk di bangku peserta bukan mahasiswa, melainkan para dosen School of Information Systems BINUS University. Di depan layar masing-masing, mereka kembali menjadi pembelajar mencoba, keliru, mengulang, lalu memahami satu per satu alur kerja sistem Odoo.

Workshop Odoo for Education yang berlangsung pada 10–11 Agustus 2026 ini menghadirkan tim Odoo untuk membedah modul-modul yang menjadi tulang punggung sistem Enterprise Resource Planning tersebut. Peserta memulai dari Purchasing, menelusuri bagaimana sebuah permintaan pembelian lahir dan diteruskan ke pemasok. Dari sana, alurnya bergerak ke Inventory, tempat barang yang datang dicatat dan pergerakannya dipantau. Berikutnya Manufacturing, ketika bahan baku diolah menjadi produk jadi. Rangkaian itu berakhir di Accounting, saat seluruh transaksi bermuara menjadi laporan keuangan.

Yang membuat sesi ini terasa berbeda adalah cara materinya disusun. Modul tidak diperkenalkan satu per satu sebagai fitur yang berdiri sendiri, melainkan dirangkai sebagai satu siklus yang saling terhubung. Peserta bisa melihat langsung bagaimana satu keputusan di bagian pengadaan akhirnya muncul sebagai angka di laporan keuangan gambaran yang selama ini sering sulit dijelaskan hanya lewat teori di kelas.

Sesi yang paling ditunggu justru datang di bagian teknis, salah satunya adalah cara membuat database Odoo sendiri. Dengan keterampilan ini, dosen dapat menyiapkan lingkungan belajar yang bisa dibagikan langsung kepada mahasiswa. Artinya, mahasiswa nantinya tidak lagi sekadar membaca tentang ERP, tetapi bisa masuk ke dalam sistemnya, mencoba menjalankan proses bisnis, dan melihat sendiri konsekuensi dari setiap langkah yang mereka ambil.

Menjelang akhir sesi, suasana berubah menjadi diskusi. Para dosen duduk bersama tim Odoo membicarakan hal yang tidak kalah penting dari penguasaan sistem itu sendiri bagaimana menyampaikannya kepada mahasiswa. Percakapan berkembang ke soal pemilihan studi kasus yang dekat dengan konteks bisnis di Indonesia, urutan materi yang paling masuk akal untuk pemula, hingga cara menyederhanakan kerumitan ERP tanpa kehilangan gambaran besarnya. Bagi banyak peserta, sesi inilah yang paling menentukan, karena penguasaan sistem baru benar-benar bernilai ketika bisa sampai dengan baik kepada mahasiswa.

Di penghujung acara, seluruh dosen yang mengikuti workshop selama dua hari menerima sertifikat resmi dari Odoo. Setiap peserta juga membawa pulang Scale-Up Game, perangkat dari Odoo yang bisa dimanfaatkan sebagai media pendukung untuk menjelaskan konsep proses bisnis dengan cara yang lebih ringan. Rangkaian kegiatan ditutup dengan foto bersama seluruh peserta dan tim Odoo.

Dua hari memang bukan waktu yang panjang. Namun bekal yang dibawa pulang dari ruang kelas itu akan berlanjut ke ruang-ruang kelas lain. Kali ini dengan para dosen kembali berdiri di depan, membawa serta pengalaman langsung yang baru saja mereka dapatkan. Bagi School of Information Systems, workshop ini menjadi satu langkah lagi dalam mendekatkan materi perkuliahan dengan sistem yang benar-benar digunakan di dunia kerja.