1. Mengapa Kedua Peran Ini Sering Bikin Bingung?

Di dunia kerja saat ini, istilah Business Analyst dan Data Analyst sering muncul berdampingan dan membuat banyak orang mengira keduanya adalah pekerjaan yang sama. Keduanya memang sama-sama bekerja dengan data, tetapi titik berat dan sudut pandangnya berbeda. Business Analyst biasanya lebih dekat dengan proses bisnis dan kebutuhan pengguna (user, manajemen, atau klien), sedangkan Data Analyst lebih fokus menggali pola dan insight dari data secara teknis. Memahami perbedaan ini penting bagi calon mahasiswa maupun lulusan baru, karena akan memengaruhi mata kuliah yang perlu diperdalam, jenis portofolio yang dibangun, dan arah karier yang ingin ditempuh di masa depan. 

  1. Fokus Utama Pekerjaan Business Analyst dan Data Analyst

Seorang Business Analyst biasanya berperan sebagai penghubung antara pihak bisnis dan tim teknis. Mereka membantu mengidentifikasi masalah bisnis, menggali kebutuhan dari stakeholder, mendefinisikan kebutuhan sistem atau laporan, serta menerjemahkan kebutuhan tersebut ke dalam bentuk dokumen, requirement, atau rancangan solusi. Dalam banyak kasus, Business Analyst tidak terlalu “tenggelam” dalam kode atau query yang rumit, tetapi harus sangat memahami proses bisnis, alur kerja, dan dampak perubahan terhadap organisasi. Mereka banyak terlibat dalam diskusi, workshop, penyusunan use case, dan presentasi ke manajemen. 

Data Analyst, di sisi lain, lebih banyak bekerja langsung dengan data mentah. Mereka mengumpulkan, membersihkan, dan menganalisis data untuk menjawab pertanyaan tertentu atau menguji hipotesis. Tugas sehari-hari seorang Data Analyst biasanya meliputi menulis query untuk mengambil data, menggunakan spreadsheet atau bahasa pemrograman untuk mengolah data, membuat visualisasi, dan menyusun laporan yang berisi temuan utama. Walaupun tetap perlu memahami konteks bisnis, Data Analyst biasanya menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar komputer, mengutak-atik dataset, dan bereksperimen dengan berbagai cara analisis untuk mendapatkan insight yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan. 

  1. Skill yang Dibutuhkan dan Tipe Orang yang Cocok

Business Analyst membutuhkan kombinasi pemahaman bisnis, kemampuan komunikasi, dan kemampuan analitis. Mereka harus nyaman berdiskusi dengan berbagai pihak, menyusun dokumen yang rapi, serta mampu menjelaskan kebutuhan dan solusi dengan bahasa yang mudah dipahami. Peran ini cocok bagi orang yang senang berinteraksi, suka memahami proses kerja, dan tertarik melihat “gambaran besar” organisasi. Sementara itu, Data Analyst membutuhkan dasar statistik yang baik, keterampilan teknis dalam mengolah data (misalnya menggunakan SQL, spreadsheet, atau bahasa pemrograman), serta ketelitian yang tinggi. Peran ini cocok bagi orang yang menikmati bekerja dengan angka, suka mencari pola tersembunyi di dalam data, dan tidak keberatan menghabiskan waktu untuk menguji berbagai pendekatan analisis. 

Di dunia kerja, perbedaan Business Analyst dan Data Analyst sebaiknya tidak dilihat sebagai pilihan “mana yang lebih bagus”, tetapi sebagai spektrum peran yang saling melengkapi. Ada orang yang lebih menikmati berdiskusi dengan user dan merancang solusi bisnis, ada juga yang lebih betah tenggelam di data dan bereksperimen dengan berbagai metode analisis. Selama masa kuliah, kamu bisa mencoba keduanya melalui mata kuliah, proyek, dan tugas yang berbeda, lalu melihat bagian mana yang paling membuat kamu bersemangat. Dari situlah arah kariermu bisa dibangun secara lebih alami, tanpa harus terburu-buru “mengunci” diri pada satu label sejak awal.