Remote Work: Solusi Fleksibel atau Beban Ganda bagi Perempuan?

Remote work adalah suatu sistem dimana pekerja dapat bekerja secara jarak jauh, bukan di kantor fisik. Sistem ini menawarkan fleksibilitas agar pekerja bisa bekerja dimanapun mereka berada asalkan terkoneksi dengan internet. Banyak pekerja yang merasa hidupnya lebih seimbang antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi berkat remote work ini. Mereka tidak perlu menghabiskan tenaga dan waktu di perjalanan, terlebih lagi jika mereka tinggal di kota yang macet. Namun, dibalik keuntungan tersebut, muncul perdebatan terkait dampaknya terhadap kesetaraan gender. Apakah remote work dapat membawa kebebasan dan fleksibilitas bagi perempuan atau justru memperkuat beban ganda yang selama ini mereka tanggung? Menurut data dari McKinsey & Company, 42% perempuan merasa terus-menerus mengalami kelelahan kerja (burnout), dibandingkan hanya 35% laki-laki. Kondisi ini disebabkan karena beberapa hal
- Beban Ganda antara Pekerjaan dengan Tanggung Jawab Rumah Tangga
Di negara Indonesia yang masih menempatkan perempuan sebagai pihak utama yang bertanggung jawab atas urusan rumah tangga. Hal ini membuat perempuan kesulitan menetapkan batas waktu kerja karena harus melakukan pekerjaan domestik secara bersamaan. Jika dibiarkan, maka perempuan akan mengalami fenomena double burden dimana perempuan harus memenuhi ekspektasi produktivitas kerja sekaligus bertanggung jawab atas urusan rumah tangga.
- Peluang Promosi, Bonus, dan Networking yang Lebih Rendah
Remote work membuat kinerja para pekerja kurang terlihat oleh atasan karena tidak ada kantor fisik. Hal ini diperkuat oleh penelitian Egon Zehnder yang menyatakan bahwa 70% pekerja mengakui bahwa pekerja jarak jauh lebih sering dilewatkan untuk posisi kepemimpinan karena kurangnya visibilitas. Selain itu, data dari Office for memiliki kemungkinan 50% lebih kecil untuk dipromosikan dan 38% lebih kecil untuk menerima bonus dibandingkan pekerja di kantor. Selain itu, 23% perempuan pekerja jarak jauh merasa kehilangan kesempatan untuk membangun relasi profesional yang kuat.
- Masih Mengalami Diskriminasi dan Mikroagresi
Remote work tidak sepenuhnya menghapus diskriminasi gender di tempat kerja. Menurut survei yang dilakukan oleh Catalyst, 45% perempuan yang menjadi pemimpin perusahaan merasa sulit untuk berbicara di pertemuan virtual karena ada banyaknya interupsi, kurang pengakuan, dan banyak yang meragukan keahlian mereka.
- Risiko Pemutusan Kerja yang Lebih Tinggi
Studi menunjukkan bahwa pekerja remote 35% lebih mungkin mengalami pemutusan kerja dibandingkan pekerja di kantor fisik. Tentunya kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun fleksibilitas meningkat, stabilitas pekerjaan bagi perempuan justru menurun.
Situasi atau kondisi perempuan dalam menjalani remote work ini menuntut HR dan eksekutif bisnis lainnya untuk lebih bertanggung jawab agar memastikan sistem kerja ini tidak menjadi bentuk ketidaksetaraan bagi perempuan. Beberapa langkah strategos dapat dilakukan untuk menciptakan kesetaraan gender meskipun dalam situasi remote work. Salah satu caranya adalah mengubah metode evaluasi kinerja agar tidak lagi menilai berdasarkan gender tetapi fokus pada hasil kerja dan produktivitas. Dalam hal ini mencakup pemberian gaji berdasarkan hasil kerja, bukan berdasarkan gender. Selain itu, strategi lain yang bisa dilakukan adalah melakukan rapat di waktu yang inklusif sehingga perempuan dengan tanggung jawab rumah tangga tetap dapat berpartisipasi penuh. Namun, dibalik semua dukungan dari institusional, dukungan yang paling penting adalah dukungan dari keluarga. Keluarga yang saling memahami, berbagai tanggung jawab rumah tangga, memberikan ruang bagi perempuan untuk berkembang secara profesional menjadi fondasi dalam menciptakan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Maka dari itu, kesetaraan gender dalam lingkup profesional tidak hanya bergantung pada kebijakan perusahaan, tetapi tergantung juga kepada dukungan keluarga secara penuh baik di rumah maupun di dalam dunia profesional.
Reference:
Bohrer, L. (2022, June 7). Women in remote work: Does teleworking increase gender inequality? | Lano Blog. Www.lano.io. https://www.lano.io/blog/women-in-remote-work-does-teleworking-increase-gender-inequality
Connley, C. (2021, June 17). Women with child-care needs are 32% less likely to leave their job if they can work remotely, according to new report. CNBC. https://www.cnbc.com/2021/06/17/working-moms-are-32percent-less-likely-to-leave-their-job-if-they-can-work-remote.html
European Agency for Safety and Health at Work. (2024, December 12). Remote work and women: Creating safe and healthy workplaces for all | Safety and health at work EU-OSHA. Europa.eu. https://osha.europa.eu/en/oshnews/remote-work-and-women-creating-safe-and-healthy-workplaces-all
INSTIKI. (2024, April 20). Apa Bedanya Remote Working dengan WFH? Jangan Sampai Tertukar! – INSTIKI. INSTIKI. https://instiki.ac.id/2024/04/20/apa-bedanya-remote-working-dengan-wfh-jangan-sampai-tertukar/
Rossi, E. (2025, February 5). Women in the era of remote work: What’s new and what’s next? Remote.com; Remote. https://remote.com/blog/remote-work/women-remote-work-state
Comments :