Program pertukaran ke University of Nottingham Ningbo China membawa lebih dari sekadar pengalaman akademik bagi tiga mahasiswa School of Information Systems. mereka pulang membawa sebuah sistem inovatif yang membuktikan bahwa kreativitas teknologi tidak mengenal batas geografis.

Kesempatan mengikuti program internasional kerap dipandang sebagai momen untuk belajar. Namun bagi tiga asisten laboratorium dari School of Information Systems, satu bulan di University of Nottingham Ningbo China justru menjadi ruang untuk berkarya. Alhasil, mereka berhasil merancang dan membangun sebuah sistem simulasi pengelolaan sampah berbasis teknologi canggih yang mereka beri nama ARISE.

ARISE merupakan kepanjangan dari AI-driven Real-time IoT System with Blockchain Encryption sebuah sistem simulasi tempat sampah pintar (smart waste bin) yang dirancang untuk menjawab tantangan pengelolaan sampah modern. Yang membedakan ARISE dari solusi serupa adalah cara sistem ini memadukan empat pilar teknologi sekaligus dalam satu arsitektur yang kohesif, Internet of Things (IoT), Kecerdasan Buatan (AI), Blockchain, dan Digital Twin.

Keempat komponen tersebut tidak berdiri sendiri. Mereka saling berkomunikasi melalui protokol MQTT, sebuah protokol ringan yang digunakan dalam ekosistem IoT untuk memastikan pertukaran data berjalan efisien dan real-time.

Cara kerja ARISE dirancang agar intuitif sekaligus akuntabel. Ketika pengguna mendekati tempat sampah, sistem AI akan menganalisis dan mengklasifikasikan jenis sampah yang hendak dibuang. Berdasarkan hasil klasifikasi tersebut, tempat sampah yang sesuai akan terbuka secara otomatis tanpa interaksi manual.

Namun yang menarik adalah lapisan transparansi di baliknya. Setiap interaksi, mulai dari identifikasi pengguna hingga pemberian poin sebagai bentuk apresiasi atas pemilahan yang tepat, dicatat secara permanen di dalam blockchain. Ini berarti data tidak dapat dimanipulasi dan seluruh riwayat transaksi dapat diaudit kapan saja.

ARISE lahir bukan dari laboratorium riset berskala besar, melainkan dari tangan mahasiswa dengan durasi waktu selama 1 bulan. Hal ini menegaskan bahwa ekosistem pendidikan di School of Information Systems berhasil menumbuhkan kompetensi pembelajaran dengan standar global.