Heatmap merupakan suatu representasi visual dari interaksi pengguna pada halaman website yang menggunakan spektrum warna untuk menunjukkan tingkat keterlibatan pada bebagai interface. Biasanya dalam heatmap terdapat warna merah dan kuning yang menandakan area dengan aktivitas tinggi sedangkan warna biru dan hijau menunjukkan area yang jarang dijelajahi oleh pengguna. Selain itu, heatmap digunakan dalam analisis perilaku pengguna untuk meningkatkan pengalaman pengguna. 

Dalam konteks UX, heatmap sangat berguna untuk memahami bagaimana pengguna berinteraski dengan halaman misalnya apa yang pegguna klik atau area yang paling menarik perhatian penggunanya. Dengan data tersebut, tim dapat mengidentifikasi bagian mana dari halaman yang efektif dan yang perlu diperbaiki. Selain itu, penggunaan heatmap juga dapat memberikan dampak yang besar dalam keputusan desain. Misalnya, jika sebuah tombol penting seperti “Register Noew” jarang diklik, heatmap dapat membantu mengetahui apakah masalah terletak pada posisi, ukuran, atau warna dari tombol tersebut. Heatmap terdiri dari beberapa jenis yang umum digunakan diantaranya: 

  • Click heatmap 

Click heatmap dapat digunakan untuk menunjukkan area yang paling banyak diklik oleh pengguna. Apabila warna yang diberikan semakin intens pada area tertentu, artinya area tersebut lebih banyak diklik dan diperhatikan oleh penggunanya 

  • Scroll heatmap 

Scroll heatmap umumnya digunakan untuk menggambarkan seberapa jauh pengguna menggulir halaman dimana jika terdapat area yang lebih berwarna, maka lebih banyak pengguna yang melihat pada bagian tersebut. 

  • Move heatmap 

Move heatmap digunakan untuk melacak pola dari pergerakan kursor pengguna dihalaman website. 

Penggunaan heatmap juga mendukung proses pengambilan keputusan berbasis data dalam desain produk. Adapun beberapa tools seperti Hotjar, Glassbox dan lainnya yang dapat membantu tim dalam mengakses data heatmap secara realtime dan berintergasi dengan fitur fitur lain seperti rekaman sesi atau funnel analisis. Dengan fitur tersebut, heatmap tidak hanya menjadi alat visualisasi tetapi juga komponen penting dari strategi research pengguna. 

Pada praktiknya, heatmap juga dapat digunakan dalam A/B testing yakni membandingkan dua versi halaman untuk mengevaluasi halaman yang lebih efektif dalam mengarahkan perhatian pengguna pada elemen penting seperti tombol CTA dan sebagainya. Selain untuk meningkatkan pengalaman pengguna, heatmap juga dapat digunakan dalam mengoptimalkan konversi. Berdasarkan dari data heatmap, perusahaan dapat mengidentifikasi hambatan hambatan yang mengganggu alur pengguna menuju tindakan akhir misalnya melakukan pembelian produk dan sebagainya. Dengan memperbaiki area area tersebut, diharapkan interaksi pengguna juga semakin meningkat. 

Secara keseluruhan, heatmap dapat memberikan insight terkait dengan component atau fitur pada interface website yang paling banyak diperhatikan oleh pengguna. Dengan adanya heatmap, tim dapat menganalisa kembali perbaikan yang perlu dilakukan pada tampilan aplikasi untuk mengurangi kebingungan pengguna serta mendorong performa website secara keseluruhan. 

References :