Transformasi digital pemerintahan tidak hanya membutuhkan sistem yang canggih, tetapi juga sumber daya manusia yang memahami irisan antara teknologi dan tata kelola birokrasi. Menjawab kebutuhan ini, School of Information Systems (SIS) BINUS University menjalin kerja sama strategis dengan Kementerian Keuangan Republik Indonesia untuk menyelenggarakan program pendidikan Strata 1 Sistem Informasi bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).

 

Program yang Menghargai Pengalaman Kerja Nyata

Program ini dirancang khusus bagi ASN yang telah memiliki pengalaman kerja di bidang teknologi selama menjalankan tugas di lingkungan Kementerian Keuangan. Program Rekognisi Pembelajaran Lampau memungkinkan pengalaman kerja ini di konversi menjadi SKS matakuliah sehingga waktu tempuh perkuliahan sarjana dapat menjadi lebih cepat. Sebanyak 30 ASN dari berbagai unit di Kementerian Keuangan — Sekretariat Jenderal, Direktorat Jenderal Anggaran, Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Direktorat Jenderal Perbendaharaan, dan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara — mengikuti program ini secara penuh waktu selama lima semester, sejak September 2023 hingga April 2026.

 

Hasil yang Melampaui Ekspektasi

Seluruh peserta program berhasil menyelesaikan studi tepat waktu dalam lima semester. Mayoritas lulusan meraih predikat Summa Cum Laude pada Wisuda ke-75 BINUS University — capaian yang mensyaratkan IPK minimal 3,91, kelulusan tepat waktu, tidak pernah mengulang mata kuliah, serta ketepatan waktu pengumpulan laporan tugas akhir. Sejumlah lulusan bahkan menutup masa studi dengan IPK sempurna 4,00 dan meraih BINUS Award of Excellence. Satu nama yang menonjol adalah Dhiya Tsaltsa Muharram, yang dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik program ini di Wisuda ke-75 atas capaian nilai rata-rata tertinggi di antara seluruh lulusan seangkatan.

 

Kompetensi yang Teruji di Panggung Nasional dan Internasional

Prestasi akademik peserta program ini juga terbukti di luar ruang kelas. Tim mahasiswa yang beranggotakan Faiz Hasan Nur Syafiq dan Bima Jatmiko Abadi meraih Juara 1 AIS Software Innovation Challenge 2024, kompetisi internasional yang diselenggarakan oleh Association for Information Systems dan mempertemukan mahasiswa sistem informasi dari seluruh dunia dalam merancang solusi berbasis Sustainable Development Goals PBB.

Peserta lain, Dhiya Tsaltsa Muharram, mendapat kehormatan mempresentasikan proyek aplikasinya — Ingredify, solusi berbasis AI untuk manajemen stok bahan makanan rumah tangga — langsung di hadapan Prof. Donald Norman, sosok yang dikenal luas sebagai “Bapak User Experience,” dalam ajang DT|UX Summit 2025 yang diselenggarakan SIS BINUS University.

Di ranah publikasi ilmiah, beberapa peserta turut menghasilkan riset yang dipresentasikan di konferensi internasional bereputasi, termasuk studi mengenai preferensi pengguna sistem informasi beasiswa terpusat dan pemodelan machine learning untuk peramalan harga emas — hasil kolaborasi peserta dengan dosen SIS BINUS.

 

Karya Akhir yang Menjawab Kebutuhan Transformasi Digital Pemerintah

Yang membedakan program ini dari pendidikan RPL pada umumnya adalah relevansi langsung antara tugas akhir peserta dan tantangan nyata di lingkungan kerja mereka. Topik skripsi yang diangkat mencakup evaluasi keamanan siber di Kementerian Keuangan dengan pendekatan socio-technical systems, rekomendasi model cloud deployment untuk platform Kemenkeu, analisis user experience pada aplikasi Coretax Direktorat Jenderal Pajak, hingga perancangan asisten virtual untuk optimalisasi akses informasi kepegawaian.

Karya-karya ini menunjukkan bagaimana pendidikan yang dijalani langsung diterjemahkan menjadi kontribusi nyata bagi transformasi digital institusi tempat para peserta bekerja — bukan sekadar pemenuhan syarat akademik.

Komitmen SIS BINUS dalam Mendukung SDM Digital Pemerintahan

Kerja sama ini menjadi bukti konkret peran Program Studi Sistem Informasi BINUS University — yang telah berdiri sejak 1981 — dalam mendukung penguatan kapasitas digital aparatur negara. Melalui pendekatan RPL yang mengakui pengalaman kerja nyata, dipadukan dengan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan transformasi digital sektor publik, program ini membuktikan bahwa pendidikan tinggi dapat dirancang secara fleksibel tanpa mengorbankan standar kualitas akademik.

Keberhasilan program ini membuka peluang bagi kolaborasi serupa dengan instansi pemerintah lain yang ingin memperkuat kompetensi digital sumber daya manusianya melalui jalur pendidikan formal yang terstruktur dan berorientasi pada dampak nyata.