{"id":246,"date":"2025-07-24T09:21:20","date_gmt":"2025-07-24T09:21:20","guid":{"rendered":"https:\/\/sis.binus.ac.id\/bit\/?p=246"},"modified":"2025-07-24T09:23:17","modified_gmt":"2025-07-24T09:23:17","slug":"sedih-stres-langsung-checkout-gimana-emosi-negatif-bisa-picu-belanja-online","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sis.binus.ac.id\/bit\/sedih-stres-langsung-checkout-gimana-emosi-negatif-bisa-picu-belanja-online\/","title":{"rendered":"Sedih, Stres, Langsung Checkout: Gimana Emosi Negatif Bisa Picu Belanja Online?"},"content":{"rendered":"<h6 style=\"text-align: center\">Source: https:\/\/images.app.goo.gl\/CLT9wGG81FfpGpp19<\/h6>\n<p>Pernah nggak sih kamu lagi sedih, overthinking, atau habis marah, terus tanpa sadar malah scroll media sosial lebih lama dari biasanya? Nggak berhenti di situ, ujung-ujungnya kamu malah beli sesuatu yang sebenernya nggak kamu butuhin. Ternyata, kamu nggak sendirian. Dan ini bukan cuma \u201chealing\u201d ala Gen Z\u2014tapi fenomena yang serius diteliti.<\/p>\n<p>Penelitian terbaru oleh Khare et al. (2025) membahas bagaimana\u00a0<strong>emosi negatif<\/strong>\u00a0seperti sedih, cemas, atau kesepian justru membuat anak muda makin\u00a0<strong>terlibat aktif dengan postingan influencer<\/strong>, bahkan mendorong mereka untuk membeli produk yang dipromosikan. Ini jadi pembahasan penting di era social media marketing, khususnya buat kita mahasiswa Business IT yang bakal terjun ke dunia digital branding dan e-commerce.<\/p>\n<h3><\/h3>\n<p><strong>Scroll Saat Sedih = Risiko Impulsif?<\/strong><\/p>\n<p>Dalam studi ini, para peneliti meneliti lebih dari 300 anak muda yang sedang mengalami emosi negatif. Hasilnya mengejutkan: saat merasa emosional, mereka justru\u00a0<strong>lebih tertarik dan aktif berinteraksi<\/strong>\u00a0dengan postingan influencer\u2014terutama postingan yang membawa aura positif dan menyenangkan.<\/p>\n<p>Jadi, saat kamu lagi down dan lihat konten influencer yang happy, estetik, dan penuh kata-kata motivasi, kamu jadi lebih mudah \u201cterbawa suasana\u201d. Algoritma pun mendukung itu: konten serupa akan terus muncul di feed kamu, menciptakan semacam lingkaran setan\u2014emosi negatif \u2192 konten positif \u2192 interaksi tinggi \u2192 dorongan untuk beli produk.<\/p>\n<h3><\/h3>\n<p><strong>Emosi = Mesin Penggerak Engagement<\/strong><\/p>\n<p>Emosi ternyata adalah kunci engagement. Postingan dari influencer yang dikemas secara emosional\u2014baik positif maupun negatif\u2014mampu membangun koneksi psikologis yang kuat dengan audiens. Ini menjelaskan kenapa banyak influencer sekarang bukan cuma pamer produk, tapi juga curhat, bercerita soal mental health, atau sharing perjuangan hidup.<\/p>\n<p>Menurut Khare et al. (2025), engagement tertinggi terjadi ketika influencer tampil autentik dan menyampaikan cerita yang bisa \u201cmenyembuhkan\u201d perasaan audiens yang sedang terpuruk.<\/p>\n<h4><\/h4>\n<p><strong>Apa Hubungannya dengan Business IT?<\/strong><\/p>\n<p>Sebagai mahasiswa Business Information Technology, kita belajar bagaimana membuat sistem yang bisa memahami perilaku pengguna. Nah, perilaku digital tidak bisa lepas dari kondisi psikologis penggunanya.<\/p>\n<p>Data engagement bukan sekadar angka likes atau comments. Di baliknya, ada dinamika emosional yang bisa dimanfaatkan\u2014atau disalahgunakan. Di sinilah pentingnya memahami\u00a0<strong>UX berbasis emosi<\/strong>,\u00a0<strong>sentiment analysis<\/strong>, dan\u00a0<strong>algoritma rekomendasi yang etis<\/strong>.<\/p>\n<p>Kalau kamu nanti bikin platform e-commerce atau social commerce, bayangkan bagaimana fitur yang kamu desain bisa memicu keputusan impulsif. Apakah kamu akan membiarkan pengguna yang sedang sedih terus ditawari diskon atau \u201cproduk penghibur\u201d? Atau justru membuat sistem yang bisa mengenali tanda-tanda emosional dan memberikan pengalaman yang lebih suportif?<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Tanggung Jawab Etika Digital<\/strong><\/p>\n<p>Studi ini menyuarakan hal yang penting: anak muda sangat rentan terhadap promosi yang menyasar kondisi emosional mereka. Influencer tahu ini, brand tahu ini, dan platform pun \u201ctahu\u201d\u2014lewat algoritma mereka.<\/p>\n<p>Di sinilah kita, sebagai generasi baru di bidang teknologi dan bisnis digital, perlu membangun pendekatan yang lebih bijak. Jangan hanya fokus pada \u201cengagement tinggi\u201d, tapi pikirkan juga\u00a0<strong>kesehatan mental pengguna<\/strong>.<\/p>\n<h4><\/h4>\n<p><strong>Penutup: Saatnya Jadi Konsumen (dan Developer) yang Lebih Sadar<\/strong><\/p>\n<p>Scroll media sosial bisa jadi bentuk pelarian. Tapi kalau tidak disadari, itu bisa berubah jadi belanja impulsif, dan bahkan membentuk kebiasaan yang merugikan.<\/p>\n<p>Sebagai mahasiswa BIT, yuk mulai belajar memahami sisi emosional dari digital behavior. Karena masa depan bukan cuma soal teknologi yang makin canggih, tapi juga soal bagaimana kita menggunakannya dengan\u00a0<strong>empati dan tanggung jawab<\/strong>.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h6>Referensi:<br \/>\nKhare, A., Prakash, A., &amp; Kapoor, A. (2025).\u00a0<em>The influence of negative emotions on young consumers\u2019 engagement with social media influencers\u2019 branded posts<\/em>. Scientific Reports, 14(1).\u00a0<a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1038\/s41598-025-85183-z\">https:\/\/doi.org\/10.1038\/s41598-025-85183-z<\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Source: https:\/\/images.app.goo.gl\/CLT9wGG81FfpGpp19 Pernah nggak sih kamu lagi sedih, overthinking, atau habis marah, terus tanpa sadar malah scroll media sosial lebih lama dari biasanya? Nggak berhenti di situ, ujung-ujungnya kamu malah beli sesuatu yang sebenernya nggak kamu butuhin. Ternyata, kamu nggak sendirian. Dan ini bukan cuma \u201chealing\u201d ala Gen Z\u2014tapi fenomena yang serius diteliti. Penelitian terbaru [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":54,"featured_media":252,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[13,12],"class_list":["post-246","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","tag-ai-teknologi","tag-teknologi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sis.binus.ac.id\/bit\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/246","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sis.binus.ac.id\/bit\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sis.binus.ac.id\/bit\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sis.binus.ac.id\/bit\/wp-json\/wp\/v2\/users\/54"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sis.binus.ac.id\/bit\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=246"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/sis.binus.ac.id\/bit\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/246\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":255,"href":"https:\/\/sis.binus.ac.id\/bit\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/246\/revisions\/255"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sis.binus.ac.id\/bit\/wp-json\/wp\/v2\/media\/252"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sis.binus.ac.id\/bit\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=246"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sis.binus.ac.id\/bit\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=246"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sis.binus.ac.id\/bit\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=246"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}