Deepfake dan AI dalam Dunia Periklanan: Ancaman atau Peluang?

Deepfake adalah teknologi yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk membuat konten audio, gambar, atau video yang tampak autentik namun sebenarnya telah dimanipulasi. Dalam dunia periklanan, penggunaan deepfake menimbulkan perdebatan antara potensi inovasi dan risiko penyalahgunaan.

Peluang dalam Periklanan

Deepfake menawarkan peluang kreatif bagi industri periklanan. Dengan kemampuan menghasilkan representasi visual dan audio yang realistis, merek dapat menciptakan konten yang lebih menarik dan personal. Misalnya, perusahaan dapat menghidupkan kembali tokoh sejarah atau selebriti yang telah tiada untuk membintangi iklan mereka, memberikan sentuhan nostalgia dan daya tarik emosional kepada audiens. Selain itu, deepfake memungkinkan penyesuaian pesan iklan secara dinamis untuk berbagai segmen pasar tanpa perlu produksi ulang yang mahal.

Ancaman dan Risiko

Namun, di balik peluang tersebut, terdapat ancaman signifikan. Deepfake dapat digunakan untuk membuat iklan palsu yang menyesatkan konsumen. Contohnya, penjahat siber telah memanfaatkan teknologi ini untuk membuat video atau audio palsu yang meniru suara dan wajah eksekutif perusahaan guna menipu korban.

Selain itu, deepfake juga digunakan dalam penipuan investasi dan skema keuangan lainnya, dengan memanfaatkan wajah dan suara tokoh terkenal untuk meyakinkan korban.

Etika dan Regulasi

Penggunaan deepfake dalam periklanan menimbulkan pertanyaan etika terkait keaslian dan transparansi. Tanpa regulasi yang tepat, ada risiko penyalahgunaan yang dapat merusak kepercayaan publik terhadap media dan informasi yang disampaikan. Beberapa negara mulai mempertimbangkan regulasi untuk mengontrol penggunaan deepfake, terutama dalam konteks politik dan komersial.

Kesimpulan

Deepfake dalam dunia periklanan menawarkan peluang inovatif untuk menciptakan konten yang menarik dan personal. Namun, tanpa pengawasan dan regulasi yang tepat, teknologi ini juga membawa ancaman signifikan, termasuk penipuan dan penyebaran informasi menyesatkan. Oleh karena itu, penting bagi industri periklanan untuk menggunakan teknologi ini secara etis dan bertanggung jawab, serta bagi regulator untuk menetapkan pedoman yang memastikan perlindungan konsumen dan integritas informasi.

 

 

Referensi:

  • Liputan6.com. “Phishing hingga Deepfake: Begini Cara Penjahat Siber Memanfaatkan AI.” Diakses pada 31 Januari 2025.
  • Wikipedia. “Deepfake.” Diakses pada 31 Januari 2025.
  • The Guardian. “David Pocock calls for election ban on AI deepfakes with fake videos of Albanese and Dutton.” Diakses pada 31 Januari 2025.
  • https://www.mccormick.northwestern.edu/images/news/2024/07/deepfake-detection-system-is-now-live-social.jpg